Revolusi Meral Aksener, Perempuan Turki Penantang Erdogan

CNN, CNN Indonesia | Rabu, 20/06/2018 05:08 WIB
Revolusi Meral Aksener, Perempuan Turki Penantang Erdogan Meral Aksemer, kandidat presiden Turki dari partai oposisi, Partai Iyi, bertekad untuk mengalahkan Presiden Recep Tayyip Erdogan. (REUTERS/Huseyin Aldemir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menurut tradisi Turki, perkelahian antar pria berakhir saat perempuan melemparkan kerudungnya ke tanah. Karena itulah, kandidat Presiden Meral Aksener, mengunjungi satu kota ke kota lainnya, mengumpulkan kerudung warna-warni yang di Turki dikenal sebagai 'yemeni', dari para pendukungnya.

Perempuan berusia 61 tahun itu menyebut perjuangannya untuk mengakhiri agresi politik di Turki sebagai 'Revolusi Yemeni'. Jika berhasil menyingkirkan Presiden Recep Tayyip Erdogan, Aksener akan memajang kerudung-kerudung warna-warni itu di Cankaya, bekas Istana Kepresidenan di Ankara.

"Turki telah diperintah oleh laki-laki yang sangat keras untuk waktu yang sangat lama," katanya kepada CNN di kota selatan Adana, di sela-sela rangkaian kampanyenya.


Beberapa diaspora Turki di luar negeri menyebut Aksener sebagai "Iron Lady" atau "Wanita Besi". Namun di dalam negeri, orang-orang memanggilnya Asena, sosok serigala betina berwarna biru dalam legenda Turki yang menjauhkan suku-sukunya dari bahaya.

Namun ada nama lain lebih disukai Aksener.


"Beberapa orang memanggil saya kakak, tapi banyak anak muda memanggil saya 'Ibu Meral', dan saya suka menjadi ibu," kata Aksener.

Aksener adalah satu-satunya wanita yang mencalonkan diri sebagai calon presiden dalam pemilihan 24 Juni. Tapi pencalonan itu bukan hanya berdasarkan jenis kelamin.

Gayanya yang konservatif dan nasionalis tampaknya bakal memikat dukungan dari basis Erdogan. Meskipun dalam jajak pendapat, Aksener hanya menempati peringkat ketiga.

Kandidat presiden dari oposisi utama, Muharrem Ince, berada di tempat kedua dan telah menggembleng basis kiri-tengahnya sendiri. Namun Ince, tak mungkin membelah suara konservatif seperti yang mampu dilakukan Aksener.

Kebangkitan Aksener

Aksener dan visi 'Revolusi Yemeni'-nya telah menarik perhatian rakyat di seluruh turki. Para perempuan yang menghadiri kampanye Aksener di di Adana menyerahkan kerudung-kerudung mereka saat dia tampil di atas panggung.


Esra Demirkol, salah seorang pendukung setia Aksener mau menunggu berjam-jam untuk berfoto, melompat ke atas panggung dan memeluk sang kandidat pujaan.

"Demi masa depan, demi anak-anak kita, demi negara kita karena berbagai alasan, aku akan memilih Meral Aksener. Sentuhan seorang wanita membuat segalanya lebih baik. Aku ingin seorang ibu memerintah negeri kita," kata Demirkol sambil terengah-engah saat kembali dari atas panggung.

Partai Aksener, Iyi (Partai Baik) adalah pemain baru di panggung politik Turki. Namun, Aksener adalah politisi veteran. Dia pernah menjabat sebagai menteri dalam negeri selama delapan bulan di puncak perang melawan separatis Kurdi, saat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) merajalela di Turki.

Ketika ditanya soal pelanggaran HAM itu, Aksener membantahnya. Dia mengklaim bahwa selama dia menjabat sebagai menteri tak ada satu pun pelanggaran HAM.

Revolusi Meral Aksener, Perempuan Turki Penantang ErdoganFoto: REUTERS/Osman Orsal
Aksi demo anti-Erdogan.


"Ada kelompok HAM pada waktu itu, mereka menerbitkan daftar orang hilang. Saya kirimi mereka selembar surat bertanda tangan dengan tulisan, 'Mari kita cari bersama-sama mereka yang hilang.' Dan sejak itu mereka tidak menerbitkan publikasi lain selama sisa masa jabatan saya," kata Aksener.

Selama menjadi menteri dalam negeri, dia juga mendapat kredibilitas karena membela militer, yang mencoba menggulingkan pemerintah sipil pada 1997 yang disebut "kudeta post-modern".

Sekali lagi, sikap membangkang Aksener telah memicu popularitasnya. Aksener memutuskan hubungan dengan partai lamanya, Partai Gerakan Nasionalis, MHP, tahun lalu karena partai itu beraliansi dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan.


Tak Ada Sistem Pengawasan dan Keseimbangan

Aksener, seperti semua kandidat oposisi, bersumpah untuk kembali pada sistem politik Turki sebelum Erdogan.



Erdogan yang memenangkan referendum tahun lalu dikecam karena merebut kekuasaan lewat pemungutan suara itu, dimana dia mengubah sistem parlementer menjadi presidensial, yang memberikannya kekuasaan baru.

Pemungutan suara itu dinilai tidak adil, karena pemerintah Erdogan memenjarakan para pembangkang dan menghancurkan kebebasan pers menyusul kudeta yang gagal pada 2016. Erdogan menang dengan selisih tipis, dan perubahan radikal terhadap sistem Turki akan berlaku setelah pemilihan.

"Saya telah berjuang dengan Erdogan dan perilaku ekstra-yudisialnya selama dua setengah tahun, tiga tahun terakhir," kata Aksener.

"Pemilihan yang akan kita ikuti, itulah yang diinginkan oleh Erdogan. Itu bukan sistem presidensial seperti di negara demokrasi Barat. Kami tidak punya sistem pengawasan dan keseimbangan."


Dengan Ince di posisi kedua jajak pendakat Aksener mungkin bukan kandidat oposisi yang akan berhadapan dengan Erdogan, jika dalam pemungutan suara bisa lolos ke putaran kedua.

Meski begitu, Aksener sudah berperan dalam membentuk pemilihan di Turki. Dalam pemilihan presiden sebelumnya, partai-partai oposisi bersatu untuk mendukung satu kandidat untuk menantang petahana.

Kali ini, Aksener menolak untuk bergabung dan mengumumkan pencalonannya sendiri. Sikap ini langsung diikuti partai oposisi lainnya yangmengikuti dan mengajukan kandidat terkuat mereka, memberikan lebih banyak pilihan bagi orang untuk memilih menentang Erdogan.

Partai-partai oposisi termasuk Aksener telah berkomitmen untuk mendukung siapa pun yang berani berhadapan dengan Erdogan, jika pemungutan suara dilanjutkan ke putaran kedua.



Mustafa Koseler, 76 tahun, seorang pendukung MHP, bekas partai Aksener, menyatakan akan mendukung Partai Iyi partai baru Aksener, setelah berpuluh tahun setia pada MHP.

Dia khawatir bahwa Turki akan berakhir dalam "kediktatoran seperti Bashar Assad, seperti Hafez Assad, seperti (Mohamed) Morsy, seperti (Moammar) Gadhafi" di bawah pemerintahan Erdogan.

Dia mendukung Aksener untuk menjaga demokrasi dan mencegah perubahan sistem politik Turki.

"Kami tidak ingin pemerintahan satu orang," katanya pada rapat umum di Adana. "Kami ingin republik, demokrasi, dan parlemen kami berfungsi seperti sekarang ini. Kami ingin anggota parlemen kami memiliki suara. Dalam sistem baru, mereka tidak akan melakukannya."


Apa yang dijanjikan Aksener adalah fajar baru bagi negara Turki. Logo biru Iyi Party-nya berhiaskan semburat dengan sinar matahari keemasan, menjanjikan optimisme gerakan baru.

Ketika seorang pemilih di Adana, Turki, Guler Yasa, ditanya mengapa dia mendukung Aksener, dia mengacu pada logo ini. "Karena dia memalingkan wajahnya ke matahari. Dia akan membuat matahari baru terbit di atas negara kita," kata Yasa optimistis.

(bel/nat)