Dubes RI Selandia Baru Prihatin Berita Miring tentang Islam

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 21/06/2018 09:22 WIB
Dubes RI Selandia Baru Prihatin Berita Miring tentang Islam Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya menyuarakan agar dunia tanpa prasangka, termasuk terhadap Islam, dalam forum tahunan di Wellington, Rabu (20/6). (Dok. KBRI Wellington)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia merasa prihatin dengan maraknya berita miring tentang Islam. Keprihatinan tersebut disampaikan Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya dalam forum tahunan New Zealand Institute of International Affairs (NZIIA), Rabu (20/6) malam.

Tantowi ditunjuk menjadi wakil Asia dalam forum yang digelar di Wellingon Club. Sebagai wakil dari negara-negara Islam, Tantowi menyatakan keprihatinannya terhadap label negatif terhadap Islam sekarang ini.

"Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia sangat prihatin dengan berbagai berita miring tentang Islam di media, khususnya sosial media. Stereotyping dan profiling terhadap Islam membuat jarak kita semakin lebar," ujar Tantowi dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (21/6).



"Kita tidak bisa berteriak Allahu Akbar tanpa orang lain berpikir harus menghubungi polisi. Di beberapa bandara, orang dengan nama, rupa atau pakaian Timur Tengah harus menjalani pemeriksaan keamanan acak. Tahun 2025 semua hal ini harus berhenti karena prasangka terhadap agama, kelompok atau ras tertentu sudah tidak boleh lagi dipertontonkan kepada anak cucu kita, " ungkapnya yang langsung disambut tepuk tangan dari hadirin.

Dihadapan 200 tamu undangan yang terdiri dari politisi, anggota korps diplomatik, akademisi dan penggiat masalah internasional, Tantowi mengungkapkan mimpi besarnya untuk dunia di tahun 2025.

"Bagi saya, mimpi bukanlah khayalan tak bermakna. Mimpi adalah dorongan untuk berusaha dan fokus pada tujuan kita. Untuk mewujudkan mimpi, kita harus bekerja keras dan yakin akan bantuan Tuhan. Untuk itulah saya bermimpi untuk hidup di dunia tanpa konflik, tanpa prasangka dan tanpa permusuhan," kata Tantowi dalam pembukaan sambutannya.


Tantowi mengingatkan bahwa kita meminjam dunia ini dari anak cucu kita sehingga sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menyiapkan dunia yang sesempurna mungkin.

"Kita merasa sudah melakukan semuanya untuk menghadirkan dunia yang aman. Faktanya hanya ada 11 negara yang bebas konflik, sementara lebih dari 180 negara lainnya di dunia masih diselimuti konflik menurut data dari International for Economics and Peace tahun 2014. Ini menunjukkan kita belum berbuat yang terbaik untuk membebaskan dunia dari konflik" ujar Dubes yang juga mantan anggota DPR RI ini.

Tantowi yang juga merangkap Dubes RI untuk Samoa dan Tonga ini menyampaikan bahwa saat ini kita hidup di dunia yang diwarnai oleh rasa takut, kecurigaan dan ketidakdilan.


Ini berujung pada terciptanya dunia yang tidak lagi aman. Di tengah meningkatnya pengguna internet, semakin banyak pesan dan agenda politik yang disampaikan lewat sosial media. Tidak ada yang salah dengan kemajuan tehnologi.

"Masalahnya banyak dari pesan tersebut yang membingungkan bahkan meresahkan masyarakat," tutur Tantowi.

Tantowi yakin Indonesia dapat memberikan contoh nyata dalam berdemokrasi, toleransi dan perdamaian kepada dunia. Hal ini karena Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamiin akan mampu mengajak umatnya untuk saling menyayangi, saling menghargai dan patuh pada aturan dan pemimpinnya. (nat)