Singapura Kucurkan Rp168,2 M untuk Pertemuan Trump-Kim

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 25/06/2018 22:35 WIB
Singapura Kucurkan Rp168,2 M untuk Pertemuan Trump-Kim Ilustrasi. (Singapore Tourism Board & Wildlife Reserves Singapore Group)
Jakarta, CNN Indonesia -- Singapura mengucurkan dana hingga 16,3 dolar Singapura atau setara Rp168,2 miliar demi kelancaran pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, pada 12 Juni lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Singapura melaporkan bahwa sebagian besar dana tersebut digunakan untuk keamanan.
Dengan demikian, Singapura disebut sudah "mendukung upaya internasional untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea."

AFP
melaporkan bahwa Singapura memang menggencarkan operasi keamanan besar-besaran selama pertemuan bersejarah itu berlangsung.


Selama beberapa hari menjelang dan setelah pertemuan, Singapura mengerahkan ribuan personel kepolisian, juga mengatur penutupan jalan, melarang penggunaan kembang api dan pengeras suara.

Singapura juga dilaporkan membantu biaya penginapan delegasi Pyongyang, termasuk Kim yang bermalam di St Regis, di tengah keterpurukan perekonomian Korut akibat sanksi internasional.
Tak hanya itu, Singapura juga menggelontorkan dana untuk membangun fasilitas bagi para jurnalis asing yang meliput pertemuan bersejarah tersebut.

Namun, dana yang dikeluarkan Singapura lebih kecil dari perkiraan Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Sebelumnya, sang PM diprotes karena memperkirakan dana bantuan itu mencapai senilai Rp207, 6 miliar.

Singapura terpilih menjadi lokasi pertemuan karena disebut memiliki hubungan baik dengan AS maupun Korut sehingga dianggap netral.

Negara pusat keuangan di Asia Tenggara itu pun dianggap memiliki reputasi keteraturan yang ketat dan memiliki cukup pengalaman menggelar pertemuan-pertemuan besar lain.
Namun, tak semua warga Singapura menyambut baik dan merasa bangga karena menjadi tuan rumah acara tersebut.

Panduvan Kader Hussain (36), warga Singapura yang kini berprofesi sebagai supir taksi online, mengatakan dia tak begitu senang dengan perhelatan KTT di negaranya.

Mantan pegawai bank swasta itu menganggap Singapura bisa memanfaatkan jutaan dolar tersebut untuk membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

"Saya pikir lebih bijak bagi pemerintah untuk menghabiskan jutaan dolar itu dengan membuka lapangan pekerjaan baru dan mungkin menurunkan pajak. KTT ini walau bagaimanapun hanya menguntungkan sejumlah pihak," kata Hussain kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Sebagian warga Singapura bahkan berpikir menjamu pertemuan dua pemimpin yang sama-sama tak konsisten dan kerap berubah-ubah itu merupakan gangguan daripada sebuah kehormatan.

Apalagi sebelum ada pernyataan resmi pemerintah, Singapura disebut harus mengeluarkan dana hingga US$14,7 juta untuk menggelar pertemuan tersebut.

Sebab, selain pengamanan, pemerintah juga harus membayar sejumlah besar fasilitas untuk sedikitnya 2.500 jurnalis asing yang meliput pertemuan tersebut.

Namun, sejumlah pengamat menganggap bahwa KTT AS-Korut pada akhirnya mampu menguntungkan Singapura, terutama dari sektor wisata dan bisnis.

(has/aal)