Sembilan Makna Kemenangan Erdogan bagi Turki dan Dunia

CNN International, CNN Indonesia | Selasa, 26/06/2018 16:14 WIB
Sembilan Makna Kemenangan Erdogan bagi Turki dan Dunia Predikat pemimpin terlama dalam sejarah modern Turki sudah melekat pada Recep Tayyip Erdogan. Kemenangannya kembali dalam pemilu pun menimbulkan polemik. (Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Predikat pemimpin terlama dalam sejarah modern Turki sudah melekat pada Recep Tayyip Erdogan. Kemenangannya kembali dalam pemilu pada Minggu (24/6) pun menimbulkan polemik.

Negara-negara Barat langsung waspada dengan dugaan sikap Erdogan yang semakin keras, terutama karena sang presiden sudah memenangkan referendum untuk memperluas kewenangan.

Sementara itu, para pemimpin negara lain, seperti Presiden Rusia, Vladimir Putin, hingga Presiden Somalia, Mohamed Abdullahi Mohamed, justru dengan sigap mengucapkan selamat atas kemenangan Erdogan.
"Pemenang pada pemilu 24 Juni adalah warga Turki, bangsa Turki, orang yang menderita di kawasan kita, dan seluruh rakyat yang tertekan di dunia," ujar Erdogan dalam pidato kemenangannya.


Namun, apa sebenarnya arti dari kemenangan ini? CNN merangkum sembilan makna tersebut dalam pemberitaannya.

Erdogan mengencangkan cengkeraman

Erdogan memulai periode kedua kepemimpinannya sebagai presiden dengan kewenangan yang lebih luas berkat referendum tahun lalu.

Di bawah sistem baru ini, jabatan perdana menteri dihapuskan, kewenangan parlemen dibatasi, dan presiden memegang otoritas yang kian luas.

Tak hanya itu, Erdogan juga dapat mengikuti pemilihan umum selanjutnya, melengangkan jalannya menuju jalur kekuasaan hingga 2028.
Erdogan memulai periode kedua kepemimpinannya sebagai presiden dengan kewenangan yang lebih luas berkat referendum tahun lalu. (Reuters/Goran Tomasevic)
Sepanjang kariernya, Erdogan memang selalu mengonsolidasikan kekuatannya. Dia kerap menghancurkan upaya protes anti-pemerintahan, bahkan menguapkan penyelidikan korupsi yang membidik lingkaran terdekatnya.

Setelah upaya kudeta yang gagal pada 2016 lalu, Erdogan langsung memusnahkan musuh politiknya dengan memecat puluhan ribu karyawan dan pejabat pemerintahan, memenjarakan kritikus, hingga membungkam media.

Kabar buruk untuk oposisi

Dengan kekuatan lebih besar tersebut, harapan oposisi kian pudar, padahal mereka disebut-sebut memiliki peluang besar dalam pemilu Minggu lalu.

Meski sudah berupaya sekeras mungkin mendulang suara, kekuatan Erdogan tetap tak bisa dibendung.

Namun, sejumlah pengamat menganggap oposisi masih memiliki peluang mengingat hampir 50 persen warga sebenarnya mendukung mereka.

Kurdi tak menentu

Perjuangan juga masih harus dilakukan oleh kelompok separatis Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang sudah berupaya memisahkan diri sejak empat dekade lalu.
Perjuangan juga masih harus dilakukan oleh kelompok separatis Partai Pekerja Kurdistan (PKK). (Reuters/Asmaa Waguih)
Walau Erdogan membatalkan perundingan damai dengan PKK, warga di berbagai desa mayoritas Kurdi berpesta karena partai yang mendukung kepentingan mereka, Partai Rakyat Demokrat (HDP), merengkuh 10 persen suara di parlemen.

Dengan demikian, upaya Erdogan untuk mencegah perwakilan Kurdi di parlemen gagal total.

Hantaman kian kuat untuk kebebasan berpendapat

Ancaman juga kian kuat menerpa iklim media massa di Turki karena Erdogan dikenal sangat kuat membungkam suara-suara yang menentang.

Tak perlu mencari jauh, bias media ini sangat terlihat sejak masa kampanye hingga akhirnya hasil pemilu keluar, berita mengenai politikus oposisi seakan menguap begitu saja.

Sementara itu, Amnesty International mencatat sejak upaya kudeta pada 2016 lalu, masih ada 120 jurnalis ditahan. Nasib mereka hingga kini belum diketahui.

Perekonomian di ambang risiko

Kemenangan Erdogan memang juga dirayakan dengan kenaikan nilai mata uang Turki, Lira, hingga tiga persen sehari setelah pemilu.

Namun, nilai mata uang Turki ini sendiri sebenarnya sudah turun drastis sejak upaya kudeta pada Juli 2016 lalu.
Bank sentral Turki sendiri sudah menaikkan suku bunga hingga hampir 18 persen demi membendung permasalahan ini, tapi nyatanya, rakyat justru semakin dirugikan.

Mengklaim akan membawa Turki menuju perekonomian yang lebih baik, Erdogan justru membuat segalanya semakin kacau dengan menyiratkan bakal mengendalikan suku bunga.

Para investor asing yang mulai kehilangan kepercayaan kepada bank sentral Turki pun perlahan kabur.

Gempuran ke Suriah berlanjut

Dalam pidato kemenangannnya, Erdogan berjanji akan "membebaskan lebih banyak tanah Suriah" dari tangan teroris.

Turki memang sudah melancarkan sejumlah operasi di Suriah untuk menggempur ISIS dan milisi Kurdi. Salah satu pasukan Kurdi sasaran Turki adalah milisi yang dilatih AS untuk melawan ISIS di Suriah.
Ilustrasi. (SANA/Handout via Reuters)
Operasi ini membuat posisi Turki dan AS dan NATO membingungkan. Pada Maret lalu saja, AS memperingatkan Turki karena operasi Ankara di barat laut Suriah itu mengganggu kampanye melawan ISIS dan justru membuat kelompok teror bangkit.

Tanda tanya seputar aliansi NATO

Di bawah Erdogan, Turki menjadi anggota NATO yang bermasalah. Selain meremehkan kebijakan AS di Suriah, kedua negara juga terus berseteru dalam sejumlah hal, memicu pertanyaan mengenai peran Turki dalam aliansi tersebut.

Turki juga membuat geram NATO karena membeli rudal jarak jauh dari Rusia. Sistem rudal itu tidak bisa dioperasikan dengan pertahanan NATO yang sudah ada.

Sementara pejabat Turki memperbarui komitmen mereka kepada aliansi tersebut, Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, menggambarkan ketegangan antara kedua belah pihak itu sebagai "isu yang sulit."

Jalan Turki menuju Uni Eropa semakin jauh

Dengan sebagian daerah kekuasaan masuk wilayah Eropa, Turki sudah mendaftarkan diri untuk bergabung dalam Uni Eropa sejak tiga dekade silam.

Jalan menuju keanggotaan Uni Eropa semakin panjang di tangan Erdogan karena berbagai kekhawatiran isu hak asasi manusia di negara mayoritas Muslim tersebut.
Ilustrasi Uni Eropa. (Reuters/Yves Herman)
Ini adalah kali pertama Erdogan mengikuti pemilu tanpa mengkritik Uni Eropa. Sejumlah pengamat menduga Erdogan takut di tengah keterpurukan perekonomian Turki.

Membawa kembali Kekaisaran Ottoman

Kebijakan luar negeri Turki di bawah Erdogan masih akan terus berfokus pada pembangunan hubungan dengan bekas wilayah Kekaisaran Ottoman.

Turki kerap menggambarkan hubungan ini sebagai "ikatan persaudaraan." Ujung tombak dari kebijakan ini adalah badan pembangunan Turki, TIKA, yang menjalankan proyek di Balkan, Timur Tengah, dan Afrika.

Pada akhirnya, kebijakan luar negeri ini dapat memperluas pasar Turki, membuka jalan menuju janji Erdogan untuk menjadikan martabat negaranya lebih tinggi di mata internasional. (has/has)