Tentara Pembebasan Papua Barat Klaim Penembakan di Nduga

Natalia Santi, CNN Indonesia | Kamis, 28/06/2018 10:41 WIB
Tentara Pembebasan Papua Barat Klaim Penembakan di Nduga Ilustrasi Twin Otter. Bill Abbott/Flickr
Jakarta, CNN Indonesia -- Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat mengaku bertanggung jawab atas penembakan di Nduga, Papua yang menewaskan tiga warga sipil, salah satunya anak-anak.

Pesawat Twin Otter PK-RYU milik maskapai penerbangan Trigana Air ditembak di Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, Senin (25/6) sekitar pukul 10.

Penembakan terjadi ketika pesawat tengah menuju lokasi parkir (taxi out) dari landasan.


Pesawat tersebut membawa 18 anggota Brimob yang bertugas untuk mengamankan pilkada serentak di Kabupaten Nduga, Papua.


Tiga warga sipil, termasuk seorang anak, tewas akibat baku tembak. Mereka diidentifikasi sebagai warga Sulawesi Selatan. Adapun pilot Kapten Ahmad Abdillah Kamil menderita luka-luka akibat terkena serpihan peluru di bagian punggung.

Serpihan peluru itu mengenai punggung Kamil, saat gerakan separatis menembak pesawat yang akan mendarat di Bandara Kenyam.

Dilansir situs berita Radio Selandia Baru (radionz.co.nz), tentara separatis Papua mengaku bertanggung jawab atas tewasnya ketiga warga sipil, termasuk anak laki-laki yang mereka katakan terkena peluru nyasar.

"Tembakan membidik ayah anak itu, tapi anak itu panik dan memeluk ayahnya, lalu terkena hantaman peluru nyasar di pipinya," kata tentara separatis itu dalam laporan yang dikutip Radio Selandia Baru.


Kedua orang tua anak laki-laki itu juga tewas. Mereka adalah pendatang asal Sulawesi Selatan, yang menurut tentara separatis Papua adalah pedagang di Kota Nduga.

Juru bicara tentara separatis Papua, Sebby Sambom mengatakan pihaknya menembak mereka karena mengeluarkan pistol.

"Orang dari Sulawesi, dia mengambil posisi memegang pistol dan menembak Tentara Pembebasan Papua. Karena itulah tentara pembebasan menembak dia. Lalu istri dan putranya datang dan memeluk dia. Lalu istrinya tertembak," kata Sambom seperti dilansir RadioNZ.

Sambom mengatakan kematian anak itu tidak disengaja. Tetapi dia menuduh ayah si anak adalah salah satu pendatang dari wilayah lain di Indonesia ke Papua untuk menjadi agen intelijen yang menyamar untuk membantu tentara Indonesia.


"Kami mengenali mereka. Kami punya data," kata Sambom.

"Beberapa warga sipil Indonesia menjadi pedagang, padahal sebenarnya mereka adalah agen intelijen Indonesia. Tentara dan polisi Indonesia memberi mereka toko atau rumah toko untuk berdagang. Mereka ada di mana-mana," tuding Sambom.

Kabid Humas Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Kamal mengatakan warga sipil yang menjadi korban bermukim di sekitar Bandara Kenyam.

Penembakan terhadap pesawat di Bandara Kenyam juga terjadi pada Jumat (22/6) pekan lalu. Pesawat Twin Otter milik maskapai penerbangan Dimonim Air PK-HVU ditembak saat hendak mendarat sekitar pukul 13.05.


Akibat penembakan itu, pesawat mengalami kebocoran di bagian depan, tujuh bagian kabel pesawat putus, buku manifes rusak dan pergelangan kaki kanan ko-pilot, Irene Nur Farida terkena serpihan peluru.

Peristiwa penembakan juga kerap menyasar patroli aparat keamanan dan angkutan karyawan perusahaan tambang Freeport di Papua.

Sejak tahun lalu, tentara separatis Papua melancarkan serangan ke Nduga yang berada di dataran tinggi. Dua tentara nasional Indonesia (TNI) tewas pada Desember lalu. Tentara separatis Papua menginginkan kemerdekaan dari Indonesia dan menyebut Indonesia sebagai penjajah.

(nat)