Temui Mahathir, Pebisnis Indonesia Mengeluh Sulit Investasi

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 29/06/2018 20:15 WIB
Temui Mahathir, Pebisnis Indonesia Mengeluh Sulit Investasi PM Malaysia Mahathir Mohamad menerima keluhan para pebisnis Indonesia saat berkunjung ke Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengusaha Indonesia mengeluh sulit membuka usaha dan menanamkan modal di Malaysia. Sementara itu, perusahaan Malaysia sudah banyak yang melebarkan sayap dan berinvestasi di tanah air.

Hal itu disampaikan oleh komunitas pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Indonesia-Malaysia Bussiness Council (IMBC) saat bertemu dengan Perdana Menteri Mahathir Mohamad di Jakarta, Jumat (29/6).

"IMBC sudah 15 tahun berdiri namun hingga kini baru satu visinya yang tercapai, yakni mempermudah pebisnis Malaysia berinvestasi di Indonesia. Tapi pengusaha Indonesia masih sulit untuk menembus pasar Malaysia," kata Presiden IMBC Tanri Abeng dalam pertemuan tersebut.


Presiden Komisioner PT Pertamina itu mengatakan sudah banyak pebisnis Malaysia yang melebarkan usahanya di Indonesia terutama dalam sektor perkebunan, infrastruktur, properti, dan keuangan. Ia mengatakan iklim usaha Indonesia juga sudah sangat ramah menerima investasi pengusaha Malaysia.
Namun, di saat bersamaan, Tanri mengatakan tak banyak perusahaan-perusahaan Indonesia yang bisa menembus pasar Malaysia.

"Mungkin ini juga karena faktor senioritas dan kemampuan kapitalisasi perusahaan-perusahaan Indonesia yang masih rendah. Tapi di sini justru tugasnya untuk bagaimana memaksimalkan dan meningkatkan kemampuan perusahaan Indonesia berkiprah di pasar Malaysia," kata Tanri.

Lebih lanjut, Tanri berharap pemerintahan baru Malaysia mau memberikan solusi mempermudah pebisnis Indonesia melebarkan sayap ke Negeri Jiran. Menurutnya, iklim usaha antara Indonesia-Malaysia harus seimbang dan menguntungkan semua pihak melihat relasi kedua negara yang sangat dekat.

"Ekpsansi perusahaan dan investasi Malaysia memang membantu perekonomian Indonesia dan membantu pemerintah memperbanyak lapangan pekerjaan. Tapi situasi ini juga harus seimbang."
Selain mempermudah jalur investasi, Tanri mengatakan sudah saatnya komunitas pebisnis kedua negara membentuk aliansi bersama guna membangun pasar internasional.

Ia menganggap Indonesia dan Malaysia memiliki potensi yang cukup besar sebagai penggerak pasar di kawasan.

Menanggapi keluhan pebisnis Indonesia, Mahathir mengatakan, sebelum berkiprah di pasar asing, perusahaan-perusahaan harus bisa menguasai pasar domestik terlebih dahulu.

Selain itu, pria 92 tahun itu juga mengatakan pemerintah Indonesia dan Malaysia harus bisa memaksimalkan peluang pasar di negara masing-masing sebelum menawarkan diri kepada investor dan perusahaan asing.
"Sepatutnya memanfaatkan jumlah masyarakat kedua negara yang besar dalam meningkatkan pasar niaga. Jika pasar kecil, maka peluang bisnis tidak akan besar. Jika pasar besar, maka akan lebih mudah mengundang para investor datang," kata Mahathir dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 25 orang tersebut.

"Kita harus bermula menguasai pasar domestik sebelum pasar asing. RI-Malaysia punya market besar senilai hampir US$260 miliar. Apalagi, masyarakat kedua negara sudah tahapnya kelas menegah atas. Ini harus dimanfaatkan pebisnis kedua negara."

Selain pebisnis, pertemuan komunitas pengusaha itu juga dihadiri oleh sejumlah petinggi negara seperti Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Agraria dan tata Ruang/BPN Sofyan Djalil, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan, dan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto.

(aal)