Guterres menggambarkan persekusi yang menimpa etnis Rohingya sebagai "mimpi buruk hak asasi manusia dan kemanusiaan".
"Di kamp pengungsian Cox's Bazar, Bangladesh, saya mendengar kisah tak terbayangkan tentang pembunuhan dan pemerkosaan dari pengungsi Rohingya yang baru-baru ini melarikan diri dari Myanmar. Mereka ingin keadilan dan pulang dengan selamat," kicau Guterres melalui Twitter, Kamis (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belas kasih dan kemurahan hati warga Bangladesh menunjukkan rasa kemanusiaan terbaik dengan menyelamatkan ribuan nyawa," ucap Guterres seperti dikutip AFP.
Bangladesh sedikitnya telah menampung 700 ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Rakhine, Myanmar, setelah krisis kemanusiaan kembali memburuk di kawasan itu pada Agustus 2017 lalu.
Militer Myanmar diduga mengusir, menyiksa, memperkosa, hingga membunuh kaum minoritas di Rakhine, terutama Rohingya, yang selama ini dianggap warga lokal sebagai ilegal imigran asal Bangladesh.
Pemerintahan Penasihat Negara Aung San Suu Kyi pun terus menjadi sorotan dunia karena dianggap gagal melindungi Rohingya, warga negaranya sendiri.
Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut kekerasan terhadap Rohingya sebagai mimpi buruk. (REUTERS/Lucas Jackson) |
Meski begitu, Myanmar dan Bangladesh telah sepakat memulai repatriasi pengungsi pada November lalu meski belum berjalan efektif.
(aal)
Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut kekerasan terhadap Rohingya sebagai mimpi buruk. (REUTERS/Lucas Jackson)