Kunjungi Rohingya, Sekjen PBB Dengar Cerita Tak Terbayangkan

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 02/07/2018 22:45 WIB
Kunjungi Rohingya, Sekjen PBB Dengar Cerita Tak Terbayangkan Ilustrasi pengungsi Rohingya. (REUTERS/Michelle Nichols)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengaku mendengar cerita "tak terbayangkan" soal kekerasan yang menimpa etnis minoritas Rohingya saat mengunjungi kamp pengungsi di perbatasan Bangladesh, Senin (2/6).

Guterres menggambarkan persekusi yang menimpa etnis Rohingya sebagai "mimpi buruk hak asasi manusia dan kemanusiaan".

"Di kamp pengungsian Cox's Bazar, Bangladesh, saya mendengar kisah tak terbayangkan tentang pembunuhan dan pemerkosaan dari pengungsi Rohingya yang baru-baru ini melarikan diri dari Myanmar. Mereka ingin keadilan dan pulang dengan selamat," kicau Guterres melalui Twitter, Kamis (2/7).


"Warga Rohingya adalah salah satu komunitas yang paling terdiskriminasi dan rentan di Bumi."
Ditemani Kepala Bank Dunia, Jim Yong Kim, Guterres menganggap kunjungannya ke kamp Rohingya merupakan bentuk "misi solidaritas bagi komunitas Rohingya dan komunitas yang selama ini membantu mereka."

"Belas kasih dan kemurahan hati warga Bangladesh menunjukkan rasa kemanusiaan terbaik dengan menyelamatkan ribuan nyawa," ucap Guterres seperti dikutip AFP.

Bangladesh sedikitnya telah menampung 700 ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Rakhine, Myanmar, setelah krisis kemanusiaan kembali memburuk di kawasan itu pada Agustus 2017 lalu.

Militer Myanmar diduga mengusir, menyiksa, memperkosa, hingga membunuh kaum minoritas di Rakhine, terutama Rohingya, yang selama ini dianggap warga lokal sebagai ilegal imigran asal Bangladesh.
Delegasi Dewan Keamanan PBB pada Mei lalu juga telah menemui sejumlah pengungsi Rohingya di kamp-kamp pengusiaan dan meminta kesaksian mereka mengenai dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan militer Myanmar.

Pemerintahan Penasihat Negara Aung San Suu Kyi pun terus menjadi sorotan dunia karena dianggap gagal melindungi Rohingya, warga negaranya sendiri.
Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut kekerasan terhadap Rohingya sebagai mimpi buruk.Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut kekerasan terhadap Rohingya sebagai mimpi buruk. (REUTERS/Lucas Jackson)
Hingga kini, militer Myanmar terus membantah tudingan upaya pembersihan etnis Rohingya meski sejumlah kelompok pemerhati HAM menemukan sejumlah bukti kekerasan hingga pembakaran kampung Rohingya di Rakhine secara sengaja.

Meski begitu, Myanmar dan Bangladesh telah sepakat memulai repatriasi pengungsi pada November lalu meski belum berjalan efektif.
Hingga kini, baru ada sekitar 200 pengungsi Rohingya yang berhasil dipulangkan ke kampung halamannya di Rakhine. Sebagian pengungsi Rohingya di Bangladesh menolak pulang jika pemerintah Myanmar menjamin keamanan dan memenuhi tuntutan untuk memberikan status kewarganegaraan.

(aal)