Jepang 'Bepacu dengan Waktu' Evakuasi Korban Hujan Lebat

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 08/07/2018 13:06 WIB
Jepang 'Bepacu dengan Waktu' Evakuasi Korban Hujan Lebat PM Jepang Shinzo Abe mengatakan pihaknya berpacu dengan waktu menyelamatkan banyak korban banjir bandang dan mereka yang belum ditemukan. (Reuters/Toru Hanai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan bahwa pemerintah 'berpacu dengan waktu' menyelamatkan korban banjir yang terjadi pada Sabtu (7/7) dan menewaskan setidaknya 48 korban jiwa.

Sebelumnya hujan lebat telah menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor di bagian tengah dan barat Jepang. Bencana tersebut membuat pemerintah memberikan rekomendasi evakuasi pada dua juta warga di daerah itu.

"Penyelamatan, menyelamatkan nyawa, dan evakuasi adalah berpacu dengan waktu," kata Abe, Minggu (8/7), usai pertemuan dengan tim penanggulangan bencana banjir yang dibentuk pemerintah Jepang.


"Ada banyak orang yang keselamatannya belum jelas," lanjut Abe.

Juru bicara pemerintah Jepang Yoshihide Suga mengatakan jumlah korban tewas akibat bencana tersebut sebanyak 48 orang, namun jumlah tersebut bisa semakin bertambah.


Di sisi lain, media lokal menyebut korban tewas sebanyak 50 orang dengan puluhan lainnya masih hilang.

Hujan yang terjadi saat banjir bandang tersebut terjadi memaksa warga berada di rumah untuk diselamatkan, sementara air banjir menerjang pemukiman mereka.

Sebanyak dua juta orang telah diminta untuk mengungsi oleh pemerintah. Namun, permintaan evakuasi itu tidak bersifat wajib mengingat warga terjebak di rumah mereka akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi untuk dua wilayah baru pada Minggu (8/7). Namun, Badan Meteorologi Jepang juga memberikan tanda bahaya pada daerah yang hujannya telah mereda.

Bak Lautan

Dampak bencana hujan lebat yang disusul banjir bandang terlihat di kota Mihara, selatan Hiroshima. Jalanan di kota tersebut kini bak sungai dengan air cokelat yang berisi lumpur.


"Area ini bagai lautan," kata Nobue Kakumoto, 82 tahun, penduduk setempat. "Saya khawatir karena saya tidak tahu kapan ini akan berakhir,"

Sementara penduduk banyak yang bertahan di rumah mereka, sejumlah pekerja mulai membersihkan lumpur yang menutupi jalanan.

"Kami membawa peralatan penyelamatan sepanjang waktu," kata Yoshihide Fujitani, petugas Badan Penanggulangan Bencana Jepang di prefektur Hiroshima.

"Kami juga melakukan evakuasi dan memulihkan infrastruktur vital seperti saluran air dan gas," lanjutnya. "Kami berusaha melakukan yang terbaik,"

Sedangkan di barat prefektur Okayama, sekitar 200 orang termasuk anak-anak dan lansia terperangkap di rumah sakit setelah air sebuah sungai meluap dan membanjiri kawasan sekitarnya.

"Listrik dan air telah diputus. Kami kekurangan air bersih dan cadangan makanan," kata seorang perawat kepada media NHK.


Tersapu Banjir

Lebih dari 50 ribu tim penyelamatan yang terdiri dari tim SAR, polisi, dan militer telah dikerahkan untuk menanggulangi bencana yang membuat seluruh desa terendam air.

"Rumah saya hanyut dan hancur total," kata Toshihide Takigawa, karyawan berusia 38 tahun di sebuah pengisian bensin di Hiroshima, kepada media Nikkei, Sabtu (7/7).

"Saya berada di dalam mobil dan banjir bandang mengalir ke arah saya dari depan dan belakang dan menelan jalan. Saya baru saja bisa melarikan diri, namun saya masih takut," kata Yuzo Hori, 62 tahun, kepada media Mainishi Shimbun.

Badai topan sebenarnya telah menyerang Jepang sejak pekan lalu, namun hujan terburuk baru terjadi pada Kamis (5/7) yang membuat seorang pekerja konstruksi tersapu banjir di kawasan barat Jepang.

Sejak saat itu, angka korban banjir bandang terus bertambah, dan kondisi tersebut menyulitkan aksi tim penyelamat. Sejumlah warga pun meminta pertolongan melalui media sosial Twitter.



"Air hingga mencapai lantai dua rumah kami," kata seorang wanita yang tinggal di Kurashiki, Okayama, di media sosial sembari melampirkan foto banjir di rumahnya.

"Anak-anak tidak dapat memanjat ke atap," katanya. "Suhu tubuh saya semakin menurun. Selamatkan kami. Tolong,"

Para petugas di sejumlah daerah bencana menggunakan berbagai moda untuk menyelamatkan warga, mulai dari perahu hingga helikopter.

Beberapa pabrik besar seperti Daihatsu dan Mitsubishi menyebut telah menghentikan operasional di daerah yang terkena bencana.

Kejadian ini menjadi bencana terkait hujan terparah di Jepang sejak 2014. Kala itu, setidaknya 74 orang meninggal dalam bencana tanah longsor karena hujan lebat di daerah Hiroshima. (end)