Potensi Kerja Sama RI-Botswana, Penghasil Berlian di Afrika

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 16/07/2018 03:31 WIB
Potensi Kerja Sama RI-Botswana, Penghasil Berlian di Afrika Presiden Botswana Mokgweetsi Masisi (kiri) seusai menerima surat kepercayaan dari Duta Besar RI Salman Al Farisi di Kantor Kepresidenan Gabarone, Botswana. (Dok. KBRI Pretoria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Potensi kerja sama Indonesia-Botswana belum sepenuhnya tergali. Meski begitu, kedua negara berkeinginan untuk meningkatkannya. Presiden Botswana Mokgweetsi Masisi menyatakan kekaguman pada ekonomi dan dinamika demokrasi di Indonesia.

Bostwana, negeri di Afrika penghasil berlian dan perekonomiannya bertumpu pada pariwisata serta peternakan. Presiden Masisi menganggap Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas lima persen di tengah situasi global yang tidak menentu.

Presiden Masisi juga mengaku sangat kagum dengan Indonesia yang meskipun berpenduduk mayoritas muslim akan tetapi tetap menjaga kemajemukan dan memiliki dinamika demokrasi yang baik.


Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Mokgweetsi Masisi saat menerima surat kepercayaan dari Duta Besar RI Salman Al Farisi di Kantor Kepresidenan Gabarone, Botswana.


"Presiden Masisi sangat berharap agar Indonesia dapat berperan aktif dalam upaya Botswana memperkuat pembangunan yang berkelanjutan," ungkap Dubes Salman lewat rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Minggu (15/7).

Presiden Mesisi mengutarakan bahwa tantangan yang dihadapi negaranya saat ini adalah mengatasi pengangguran, terutama pengangguran pemuda dan diversifikasi ekonomi.

Kepada Presiden Botswana, Dubes Salman menyatakan kesiapannya untuk bekerja dengan kalangan pemerintah, swasta, dan masyarakat madani Botswana guna lebih memperkuat kerjasama di segala bidang, terutama dengan meningkatkan kinerja diplomasi ekonomi.

Dubes Salman juga menegaskan komitmen Presiden Joko Widodo untuk terus meningkatkan kerjasama bilateral yang lebih produktif antara Indonesia dan Botswana.

Saat ini hubungan dagang kedua negara masih jauh dari memadai, yakni hanya berkisar US$350 ribu.


Botswana merupakan negara pelintasan bagi arus perdagangan ke negara-negara Afrika lainnya, seperti Zambia dan Republik Demokratik Congo, hingga Afrika Tengah yang kaya dengan sumber daya alam dan beragam komoditas pertanian.

Dengan demikian pembangunan infrastruktur ekonomi menjadi perhatian besar Pemerintah Botswana.

Dubes Salman lebih lanjut menyampaikan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dan kemampuan dalam pembangunan infrastuktur, termasuk dry-port, bandara, dan pembangkit listrik yang sangat diperlukan Botswana.

Dubes Salman, yang juga Dubes RI untuk Afrika Selatan, mengutarakan bahwa Pemerintah Indonesia menyelenggarakan Indonesia Africa Infrastructure Dialogue pada 2019 dan mengharap agar Botswana dapat berpartisipasi.

 Okavango Delta, BotswanaFoto: REUTERS/Mike Hutchings
Okavango Delta, Botswana


Sebelumnya, Dubes Salman juga bertemu dengan Menteri Urusan Kepresidenan, Nonovo Molefhi, yang bertindak selaku Menteri Luar Negeri Botswana.

Molefhi menyatakan pihaknya akan memfasilitasi langkah-langkah yang akan ditempuh oleh perwakilan RI untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak di Botswana untuk mendorong diplomasi ekonomi, termasuk dalam proyek-poyek infrastruktur, perdagangan, dan industri pengolahan.

Mantan Staf Ahli Menteri Luar Negeri bidang itu juga menggelar pertemuan dengan komunitas bisnis dan pengusaha Botswana dalam rangka promosi perdagangan dan diplomasi ekonomi, serta pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Botswana.

Di antaranya dengan President Business Botswana (BB), Gobusamang Keebine dan CEO BB Norman Molele, serta mengadakan temu bisnis dengan sekitar 25 pengusaha Botswana.


Dubes Salman menyampaikan harapan dan upaya peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi RI-Botswana serta membuka peluang kerja sama di bidang infrastruktur, seperti pembangunan pelabuhan daratan (dry port).

Dubes Salman juga mengundang para pengusaha Botswana untuk hadir pada Pameran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-33 di Jakarta pada tanggal 22-24 Oktober 2018. Banyak pengusaha Botswana yang hadir menyatakan berminat untuk datang pada TEI 2018 dan menjajaki peluang kemitraan.

Pada 13 Juli 2018, Dubes Salman melanjutkan kegiatan dengan bertemu dan berdiskusi bersama masyarakat Indonesia yang ada di Botswana, serta para penerima beasiswa Darmasiswa dari Botswana yang akan belajar bahasa, seni, dan budaya di Indonesia. (nat)