Demam Piala Dunia 2018 Masih Melanda Anak-Anak Rohingya

AFP, CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 20/07/2018 22:06 WIB
Demam Piala Dunia 2018 Masih Melanda Anak-Anak Rohingya Gaung kegembiraan Piala Dunia 2018 masih dirasakan anak-anak pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Kutupalong, Bangladesh. (AFP PHOTO / Munir UZ ZAMAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perhelatan akbar sepak bola Piala Dunia 2018 telah berakhir. Namun gaung kegembiraannya masih dirasakan di kamp pengungsi Rohingya di perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Demam Piala Dunia 2018 terutama dirasakan anak-anak Rohingya di kamp pengungsi terbesar di dunia, Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh. Bendera-bendera Brazil dan Argentina masih berkibar di antara warna merah dan hijau bendera Bangladesh, di kamp yang menampung hampir satu juta pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan militer di Myanmar.

Bagi banyak pengungsi anak-anak Rohingya di Bangladesh, Piala Dunia 2018 kali ini adalah ajang pertama bagi mereka. Sukacita dan kegembiraan saat menyaksikan final pada Minggu (15/7), tampaknya tidak akan segera berakhir.



Bocah-bocah Rohingya membawa piala mini replika Piala Dunia berlari menyusuri jalan-jalan kecil yang berdebu di kamp pengungsi itu. Para penggemar sepak bola muda itu bergembira. Mata mereka berbinar dan wajahnya berseri-seri melihat piala sederhana itu seolah-olah asli.

"Tim favoritku Argentina. Aku menonton pertandingan final. Kroasia dan Perancis, terus Perancis menang," kata Mohammad Reza, bocah berumur 6 tahun dengan bangga memamerkan jersey Lionel Messi berwarna biru dan putih buatan lokal.

Pengungsi termuda, Nurul Afsar, yang menjagokan Brasil, turut berdesak-desakan untuk melihat piala mini yang diletakkan di sebuah lemari kaca kecil.


"Pemain favoritku Neymar," kata dia malu-malu, sambil membawa bola karetnya.

Para penggemar sepak bola menyaksikan pertandingan final dari sebuah televisi kecil yang diletakkan di sebuah gubuk beratap terpal, bersebelahan dengan lapangan kosong tempat mereka bermain bola di siang hari.

Puluhan kaki-kaki telanjang para bocah bermain sepak bola dinaungi awan musim muson, menggocek bola sambil menghindari lubang-lubang berlumpur, lalu mencetak gol ke gawang yang dibatasi ranting-ranting kayu.


Sebuah tendangan keras dari salah satu pemain mengakibatkan bola melayang menuju daerah gubuk, namun sang wasit membunyikan peluitnya kepada pemain yang lebih tua.

Di luar kibaran bendera Spanyol atau jersey klub terkenal Eropa, para pencinta sepak bola di Bangladesh terbelah antara pendukung Brasil atau Argentina. Sebuah obsesi yang aneh di Bangladesh, yang menyusup hingga pelosok terpencil seperti kamp pengungsi Kutupalong yang dihuni para pengungsi Rohingya.

Persaingan antara dua negara Amerika Selatan ini dimulai sejak Piala Dunia 1986, dimana kehebatan Diego Maradona membawa kemenangan untuk tim Argentina. Adapun para penggemar sepak bola di Bangladesh, menjagokan legenda sepak bola Brasil, Pele.


Di antara para bocah laki-laki dari segala usia, ada yang diberi nama Neymar. Seorang anak tampak menonjol dengan gaya rambut yang diputihkan ala sang idola. Jahangir Alam memiliki gaya yang hampir serupa dengan penyerang tim Brasil setidaknya di sudut kamp pengungsi Rohingya tersebut.

"Aku sangat kagum pada Neymar. Itulah mengapa aku mempunyai gaya rambut sepertinya. Pertandingan ini sangat menyenangkan," kata remaja berusia 17 tahun yang mengenakan seragam tim Brasil sambil menggocek bolanya di lapangan berdebu, di satu sudut kamp pengungsi Rohingya di Kutupalong, Bangladesh. (sab/nat)