Berdekade Setelah Serangan Sarin, Sekte Kiamat Masih Digemari

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 27/07/2018 23:05 WIB
Berdekade Setelah Serangan Sarin, Sekte Kiamat Masih Digemari Eksekusi anggota dan pemimpin sekte hari kiamat terkait serangan gas sarin 1995 di Jepang tak menghalangi niat ratusan orang mendaftar ke kelompok penerusnya. (AFP Photo/Toru Yamanaka)
Jakarta, CNN Indonesia -- Eksekusi pemimpin sekte hari kiamat dan para pengikutnya terkait serangan gas sarin  1995 lalu di Jepang bisa menjadi akhir kisah menakutkan itu, tapi ratusan orang masih mendaftar ke kelompok penerus Aum Shinrikyo, kata pihak berwenang.

Enam anggota sekte terakhir dieksekusi pada Kamis (26/7), atas sejumlah kejahatan, termasuk serangan di kereta bawah tanah Tokyo yang menewaskan 13 orang. Peristiwa ini sepekan setelah Shoko Asahara, "guru" kelompok tersebut yang berkondisi nyaris buta, dieksekusi bersama enam pengikutnya.

Meski kasus tingkat tinggi ini menjadi peringatan akan bahaya sekte, rangkaian eksekusi itu tampaknya tak akan mengakhiri pikatan kelompok serupanya di Jepang, kata Kimaki Nishida, profesor psikologi sosial di Rissho University Tokyo.


"Kami tahu para pengikutnya tak mendapatkan akhir yang bahagia," ujarnya kepada AFP.
"Tapi sepertinya sekte-sekte akan terus ada, karena masyarakat tak bisa menyelesaikan semua masalah sementara sekte-sekte menawarkan fantasi bahwa mereka punya jawaban untuk segala hal."

Kelompok penerus Aum punya sekitar 1.650 anggota di Jepang, dan ratusan lainnya di Rusia, menurut Badan Intelijen Keamanan Publik Jepang.

Badan itu menyatakan kelompok tersebut menarik sekitar 100 pengikut baru dalam setahun melalui aktivitas seperti yoga dan ramalan.

Warga Jepang juga mengikuti sekte-sekte keagamaan yang tak diterima di Eropa tapi ditolerir di Jepang, termasuk Soka Gakkai, aliran berdasarkan ajaran Buddha dan mempunyai jutaan anggota di dunia.
Tak seperti negara-negara Eropa, di mana kelompok mulai dari Gereja Scientology hingga Gereja Unifikasi dianggap sekte, Jepang mengadopsi pandangan lebih terbuka pada kelompok-kelompok semacam itu, kerap menyebutnya "agama baru muncul."

"Kultus terbesar (di Jepang) adalah Gereja Unifikasi," kata Yoshiro Ito, pengacara anti-kultus.

Dia memperkirakan puluhan ribu warga Jepang mungkin mengikuti kelompok yang didirikan oleh mendiang Sun Myung Moon asal Korea Selatan, orang yang dianggap sebagai "penyelamat" oleh para pengikutnya.

Penerus Beroperasi Secara Terbuka

Asahara mendirikan sekte Aum di era 1980-an, menarik lebih dari 10 ribu pengikut, termasuk para dokter dan insinyur yang membuat racun kelompok itu.

Senjata kimia itu dikerahkan dan berdampak besar sebanyak dua kali, di Matsumoto pada 1994 dan di serangan 1995, mengincar sistem kereta bawah tanah Tokyo di jam ramai.

Serangan yang juga melukai ribuan orang itu memicu penggerebekan di kantor pusat Aum, di mana pihak berwenang menemukan pabrik yang mampu memproduksi cukup banyak sarin untuk membunuh jutaan orang.
Anggota sekte yang melarikan diri dan para pegiat anti-sekte telah lama memperingatkan soal Aum, tapi aparat gagal bertindak, dan bahkan setelah serangan sarin kelompok tersebut tak dilarang secara resmi.

Dua sekte penerus, Aleph dan Hikarinowa, terus merekrut anggota dan beroperasi secara terbuka. Namun, sejumlah pakar menyebut hal itu membuat pemantauan semakin mudah.

Aleph, yang menaungi istri Asahara dan sejumlah anaknya, secara resmi mengecam guru Aum pada 2000 silam. Namun, ia mempertahankan pengaruh kuat dan para pakar meyakini eksekusi malah bakal mendorong statusnya.

(aal)