Terlibat ISIS, Irak Bui Seumur Hidup Warga Prancis dan Jerman

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 07/08/2018 15:55 WIB
Terlibat ISIS, Irak Bui Seumur Hidup Warga Prancis dan Jerman Ilustrasi. (Istockphoto/menonsstocks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengadilan Irak menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup bagi dua warga Eropa yang dituduh terkait dengan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), Senin (6/8). Ratusan warga asing telah tertangkap dan menjalani persidangan setelah kelompok terakhir ISIS dikalahkan tahun lalu.

Lahcen Gueboudj (58) yang berasal dari Prancis dan perempuan Jerman bernama Nadia Rainer Hermann (22) telah dinyatakan tidak bersalah karena bergabung dengan kelompok pertempur garis keras yang menguasai sepertiga wilayah Irak dan Suriah pada 2014.

Kedua terdakwa menjalani pengadilan secara terpisah, tetapi mereka mendengarkan sidang putusan bersama beramai-ramai dengan 13 anggota lain pada Senin (6/8).


Dalam sidang Gueboudj yang berlangsung sekitar 30 menit, ia mengaku meninggalkan Prancis untuk menjemput putra sulungnya yang bergabung dengan Kelompok Negara Islam dan bertempat di Raqqa, de facto ISIS di Suriah.



"Saya tidak akan pernah meninggalkan Prancis jika anak saya tidak pergi ke Suriah," ujar Gueboudj melalaui penerjemahnya kepada hakim seperti dilansir kantor berita Reuters

"Saya menyadari bahwa saya tidak bersikap waras untuk mengunjungi Suriah."

Berbicara dalam bahasa Prancis, Gueboudj yang bertampang kusut mengaku bahwa ia telah menandatangani pengakuan dalam bahasa Arab tanpa mengetahui apa yang tertulis saat proses penyelidikan.

Hermann dan Gueboudj mengaku bahwa mereka hanya sekali berbicara kepada pihak staf konsuler sejak mereka ditahan pada 2017. Para terdakwa memiliki pengacara yang ditunjuk oleh negara, tetapi mereka tidak pernah berbicara maupun bertemu dengannya hingga hukuman dijatuhkan.

Petugas kedutaan dan penerjemah dari kedua negara menghadiri sidang pada Senin tersebut.

Hermann telah divonis penjara karena memasuki Irak secara ilegal pada bulan Januari.

Saat ia ditanya tentang kepercayaannya terhadap doktrin ISIS, ia menolak. Namun, ia mengaku mendapatkan gaji sebesar 50.000 Dinar Irak (sekitar Rp600.000) setiap bulan, yang membuktikannya sebagai anggota kelompok ISIS.

"Proses ini sangat membingungkan," kata Hermann, yang memakai seragam penjara diatas abaya hitam dan jilbab abu-abu, dalam Bahasa Jerman sebelum divonis dari sel tahanannya yang dikerumuni penjaga penjara Irak. (sab/nat)