Obituari

Kofi Annan, Sang Penakluk Saddam Husein di Meja Negosiasi

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 18/08/2018 18:35 WIB
Kofi Annan, Sang Penakluk Saddam Husein di Meja Negosiasi Mantan Sekjen PBB Kofi Annan meninggal dunia di usia 80 tahun karena sakit. (REUTERS/Michael Dalder)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa jam pada 22 Februari 1998 mungkin jadi momen mendebarkan bagi Kofi Annan yang kala itu menjabat Sekretaris Jenderal (sekjen) PBB. Ia sedang bernegosiasi meminta diktator Irak, Saddam Hussein, menghancurkan senjatanya yang mematikan.

Namun, sebagaimana digambarkan Jurnalis William Shawcross melalui bukunya Deliver Us From Evil: Warlords and Peacekeepers in a World of Endless Conflict, ia bisa demikian tenang berbincang dengan sang diktator. Negosiasi panjang itu pun berbuah manis. 

William pun penasaran bagaimana seorang Annan menghadapi Saddam. Annan dengan tenang menjawab bahwa Saddam bukan satu-satunya pemimpin 'jahat' yang ia hadapi.


"Orang-orang ini bisa sangat penuh tipu daya. Saat kamu berhadapan satu lawan satu dengan mereka, mereka bisa jadi sangat menarik dan murah senyum, tapi kamu tahu kalau mereka sangat hebat. Kamu pikir, 'bagaimana mereka tersenyum dan melakukan semuanya ini?" kata Annan dikutip dari Telegraph (15/9).

"Saddam sangat tenang dan sopan. Kamu tidak akan berpikir dia bisa melakukan apa yang sudah dia lakukan. Salah satu staf saya, seorang anak pendeta, berkata dia merasa bahwa dia di hadapan pria jahat. Tapi saya tidak berpikir orang lain merasakan hal itu. Dia tampak seperti paman dari seseorang. Tapi jika kamu salah mengartikan ketenangannya, kelembutan berbicara sebagai kelemahan, kamu dalam masalah."

Potongan kisah ini seolah menjadi salah satu bukti pengalaman Annan bahwa kelembutan hati dapat membawa kedamaian.

Namun si lembut penuh tekad dari Ghana ini telah pergi untuk selamanya. Annan meninggal pada Sabtu (18/8) pagi di Swiss karena sakit.

Lahir dengan nama Kofi Atta Annan, ia merupakan keturunan kepala suku baik dari keluarga ibu maupun ayah. Sang ayah yang berpendidikan membuatnya tumbuh menjadi anak yang memegang nilai-nilai tradisional tapi dalam gaya modern. Dikutip dari Ghana Web, ia menyebut dirinya sebagai 'atribal in a tribal world', seorang tanpa suku dalam suku-suku dunia.

Bermodal gelar master di bidang ekonomi dari Institut Universitaire des Hautes Etudes Internationales, Jenewa, ia memulai kariernya di dunia hubungan internasional dengan bergabung di Oraganisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ini juga merupakan langkah awalnya memulai karier di PBB.

Bersama PBB, Annan pernah menempati beragam posisi, mulai dari bergabung di badan PBB yang mengurusi pengungsi (UNHCR), kantor pelayanan keuangan di kantor pusat PBB, hingga manajemen sumber daya manusia.

Kiprahnya terkait perdamaian yang cukup menonjol terjadi pada sekiatr 1990-an. Saat itu ia bernegosiasi untuk membebaskan sandera di Irak kala terjadi invasi Kuwait.

Lima tahun kemudian ia melihat transisi United Nations Protection Force (UNPROFOR) menjadi Implementation Force (IFOR), organisasi untuk menjaga perdamaian milik PBB. Melihat prestasinya, PBB mengangkat Annan sebagai Sekjen pada Desember 1996. Ia pun mulai bekerja pada 1 Januari 1997.

Pada 1998, negosiasinya dengan Saddam Hussein menjadi salah satu tonggak dalam hidupnya. Ia jadi harapan terakhir untuk meredakan situasi krisis antara Irak dan Kuwait. Negosiasi membuahkan hasil positif.

Pada 2001, Annan kembali dipercaya menduduki kursi sekjen. Pada tahun yang sama, ia dan PBB memperoleh Nobel Perdamaian atas jasanya telah membawa 'angin baru' bagi organisasi perdamaian, perjuangan hak sipil dan kemampuannya menghadapi terorisme baru.

Selamat jalan,  pembawa damai!
(vws)