Dalam satu tahun ini, Beijing mengusir banyak pekerja migram yang tak memiliki status domisi dan merelokasi ratusan pabrik untuk mengurangi kepadatan penduduk yang mereka sebut sebagai "penyakit perkotaan". Akibat kebijakan ini jumlah penduduk yang tercatat berkurang sedikit, menjadi 21,7 juta tahun lalu
Akan tetapi, sekarang keluarga kelas menengah yang sudah tinggal di sana dalam jangka waktu panjang dan pembayar pajak pun harus ikut pindah kota dengan alasan lain, yaitu aturan baru membuat mereka kesulitan menyekolahkan anak mereka di sekolah-sekolah Beijing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
He kini hanya bisa bertemu dengan isterinya di akhir minggu. Dia pun keluar dari pekerjaannya di Beijing pada Maret lalu.
"Ekonomi kami terkena dampaknya," ujarnya. "Tetapi putera saya bisa bersekolah."
Aturan baru itu menyebutkan antara lain bahwa alamat keluarga tidak boleh berubah setidaknya satu tahun terakhir dan sesuai dengan wilayah tempat bantuan sosial diuangkan.
He yang kini tinggal di apartemen berkamar dua yang tampak kosong di Hebei mengatakan selama setahun dia berusaha agar bisa memenuhi syarat itu.
Aturan baru yang menetapkan penerimaan murid baru harus berdasarkan domisi di Beijing kerap berubah sehingga banyak orang tua harus pindah kota agar anaknya bisa sekolah.(Reuters/Stringer) |
Ratusan orang tua di daerah Tongzhou menghadapi situasi yang sama melakukan aksi protes di kantor-kantor departemen pendidikan TOngzhou dan kantor pendidikan Beijing Tengah pada Mei dan Juni.
"Kami sudah membayar untuk sekolah wasta, tapi sekolah itu sangat jelak. Jadi kami keluarkan dia," kata Li.
Baca selanjutnya: Orang tua akhirnya menyogok untuk bisa masuk sekolah Beijing
Aturan baru yang menetapkan penerimaan murid baru harus berdasarkan domisi di Beijing kerap berubah sehingga banyak orang tua harus pindah kota agar anaknya bisa sekolah.(Reuters/Stringer)