Mantan Pengacara Trump Buka Kolusi Kampanye dengan Rusia

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 21/09/2018 09:13 WIB
Mantan Pengacara Trump Buka Kolusi Kampanye dengan Rusia Presiden AS, Donald Trump (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan pengacara pribadi dan orang kepercayaan Presiden Donald Trump, Michael Cohen tengah melalui penyelidikan terkait kasus kolusi Rusia untuk memenangkan Trump dalam pilpres Amerika Serikat pada 2016 lalu.

Selama sebulan terakhir, Cohen telah menghabiskan berjam-jam wawancara dengan penyelidik Penasihat Khusus Robert Mueller.

Pengacara dan pengusaha New York berusia 52 tahun "telah melakukan beberapa sesi wawancara yang berlangsung selama berjam-jam selama sebulan terakhir" dengan tim Mueller, seperti dilaporkan ABC News, Kamis (20/9).


Pengacara Cohen, Lanny Davis menolak mengomentari laporan ABC, kata seorang asisten.

Namun setelah pengakuan bersalah Cohen, Davis mengatakan kliennya telah memutuskan "untuk menempatkan keluarga dan negaranya terlebih dahulu dan mengatakan kebenaran tentang Donald Trump."

Cohen mulai bisa diajak bekerjasama terkait penyelidikan kolusi itu, terutama setelah pengadilan memberikan putusan bersalah pada Cohen, 21 Agustus lalu. Cohen didakwa oleh pengadilan New York terkait penipuan bank dan pelanggaran dana kampanye.

Cohen mengaku bersalah atas tuduhan suap terhadap dua wanita yang mengaku memiliki hubungan dengan Trump. Uang suap ini menggunakan dana kampanye Trump sesaat sebelum pemungutan suara November 2016.

Cohen memang tidak menyatakan komitmen untuk bekerja sama ketika dia mengaku bersalah, tetapi jelas bahwa kerja sama bisa membantunya mendapatkan hukuman yang lebih ringan.

Laporan itu kemungkinan berita buruk bagi Trump, karena penyelidikan kolusi Rusia yang dilakukan Mueller semakin mendekati Gedung Putih.

Satu minggu yang lalu, mantan ketua kampanye Trump, Paul Manafort, juga setuju untuk bekerja sama dalam penyelidikan. Persetujuan ini diajukan melalui kesepakatan pembelaan dengan Mueller.

Mueller sendiri tengah melakukan penyelidikan terkait apakah kampanye pemilihan Trump pada 2016 lalu berkolusi dengan Rusia dalam usaha untuk mengalahkan lawannya, Hillary Clinton. Muller juga menyelidiki apakah Trump tengah berusaha menghalangi penyelidikan ini secara ilegal.

Tetapi investigasi ini meluas hingga ke urusan bisnis Trump yang terjadi satu dekade lalu. Saat itu Cohen menempati posisi sebagai eksekutif senior dalam bisnis real estat Trump Organization, di New York.

Dalam permohonannya, Cohen menyatakan bahwa dia telah bertindak atas permintaan bosnya yang telah membeli dirinya untuk diam "dengan tujuan mempengaruhi pemilihan." (AFP/eks)