Di tengah demonstrasi yang juga diperkirakan menjadi ajang protes atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di bawah rezim Duterte tersebut, sang presiden dijadwalkan mengunjungi korban longsor di Cebu.
Di sana, setidaknya 21 orang dilaporkan tewas, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang akibat longsor pada awal pekan ini.
Lihat juga:Duterte Tuding Oposisi Rencanakan Kudeta |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia mengaku ancaman itu tak berpengaruh apa pun dan tak ada yang bisa menjatuhkannya dari pemerintahan.
Duterte sendiri sudah mengumumkan peringatan pemberlakuan darurat militer pada 21 September menjadi Hari Protes Nasional dan meliburkan sekolah juga instansi pemerintahan. (cin/has)