Tak Konsisten, Mahathir Sebut Trump Berbahaya

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 27/09/2018 15:41 WIB
Tak Konsisten, Mahathir Sebut Trump Berbahaya Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad (REUTERS/Lai Seng Sin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menganggap sikap Presiden Donald Trump yang berubah-ubah dan tidak konsisten dalam menentukan posisi Amerika Serikat di kancah politik internasional berbahaya.

"Berurusan dengan orang yang tidak konsisten adalah masalah besar," ucap Mahathir dalam forum Council on Foreign Relations di New York seperti dikutip The Strait Times, Kamis (27/9).

"Dia (Trump) bisa mengubah pandangannya bahkan hanya dalam beberapa jam"

Prediksi China Menang


Dalam kesempatan itu, Mahathir bahkan mengkiritk kebijakan proteksionisme Trump dan perang dagang yang masih berlangsung antara AS dan China.

Menurut PM berusia 93 tahun itu gaya memerintah Trump mementahkan seluruh upaya AS selama ini di Asia.

Dia bahkan memprediksi China "dengan sejarahnya" yang akan keluar sebagai pemenang dalam perang dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar itu.

"China telah ada selama 4.000 tahun. Salah satu dari kita harus belajar hidup dengan China," tutur Mahathir.

Mahathir kembali terpilih sebagai perdana menteri setelah memenangkan pemilihan umum pada Mei lalu.

Dia bersama koalisinya Pakatan Harapan berhasil mengalahkan pendahulunya, Najib Razak, bersama koalisinya Barisan Nasional yang dianggap korup.

Sejak resmi dilantik, Mahathir kembali memproses hukum dugaan korupsi miliaran dolar dana lembaga investasi 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang menjerat Najib.

Tak hanya itu, Mahathir juga membatalkan sejumlah proyek pemerintah yang dianggap merugikan Negeri Jiran, termasuk proyek infrastruktur China.

Selama ini, Mahathir mengkritik kesepakatan tersebut karena dianggap terlalu besar, yaitu US$20 miliar untuk kereta cepat, serta dua pipa gas bernilai US$2 miliar. Ia khawatir Malaysia akan "berutang" kepada China.

Proyek bernilai miliaran dolar ini disepakati saat Malaysia masih di bawah kendali Najib, yang dikenal dekat dengan pemerintahan China. (rds/eks)