Korut Dilaporkan Coba Curi Rp16,7 T dari Bank Global

CNN International, CNN Indonesia | Kamis, 04/10/2018 13:19 WIB
Korut Dilaporkan Coba Curi Rp16,7 T dari Bank Global Ilustrasi peretasan. (Dok. Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Korea Utara dilaporkan menggunakan peretas untuk melakukan kejahatan finansial atas nama rezim Kim Jong-un guna mencuri US$1,1 miliar atau setara Rp16,7 triliun dari bank global.

Lembaga pengawas kejahatan siber, FireEye, melaporkan bahwa satu kelompok peretas bernama APT38 melakukan operasi di 16 organisasi di setidaknya 11 negara.

Operasi besar-besaran ini mengindikasikan mereka "memiliki sumber daya besar untuk melakukan operasi dengan keuntungan yang banyak."
Laporan FireEye juga menyebut ada kemungkinan besar institusi yang menjadi target dari kelompok itu sebenarnya lebih banyak, mengingat mereka sudah berhasil mencuri US$100 juta melalui operasi sejak 2014.


Serangan melalui ruang virtual ini beriringan dengan pengembangan program nuklir dan rudal balistik Korut yang dilaporkan terus berjalan meski sudah ada perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Pemerintahan Donald Trump sendiri sudah menekankan bahwa mereka akan tetap menerapkan sanksi atas Korut hingga Kim Jong-un benar-benar melucuti senjata nuklirnya.

Tekanan ini dianggap menjadi salah satu alasan utama Korut terus melancarkan serangan siber di berbagai ranah.
"Sanksi yang berat dan kesulitan keuangan di Korut membuat Korut juga menggunakan serangan siber untuk mengatasi kekurangan dana dari pembayaran tebusan sandera dan kecurangan transfer antar-bank," demikian bunyi laporan dari badan pengawas lainnya, Foundation for Defense of Democracies (FDD).

Penasihat Senior FDD, Samantha Ravich, pun memperingatkan bahwa Korut bisa menggunakan kemampuan mereka melakukan gempuran siber untuk menyerang perekonomian AS.

"Lima belas atau 10 tahun lalu, ketika menganalisis potensi serangan balik atas sanksi AS atas Korut atau latihan militer AS-Korsel, tak pernah ada perimbangan kemampuan rezim Kim menyasar ekonomi AS," ujar Ravich.

"Kini, Korut memiliki salah satu operasi siber paling mumpuni dan agresif. Menghadapi sanksi ekonomi AS yang intens, Pyongyang mungkin mempertimbangkan menggunakan kemampuan siber itu untuk menyerang perekonomian AS." (has/has)