Australia Tutup Pusat Detensi Imigran Kontroversial

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 19:01 WIB
Australia Tutup Pusat Detensi Imigran Kontroversial Ilustrasi kapal pengungsi. (Reuters/Marina Militare)
Jakarta, CNN Indonesia -- Australia menutup pusat detensi imigran di Christmas Island yang selama ini menuai kontroversi terkait pelanggaran hak asasi manusia.

"Pusat itu kini telah ditutup. Sekitar 30 tahanan yang tersisa dipindahkan ke kamp penahanan di daratan pada akhir pekan lalu," kata Juru Bicara Kementerian Imigrasi, David Coleman, kepada AFP.

Sejak dibuka pada 2008, pusat penahanan yang berada di wilayah Samudra Hindia dan berjarak 2.300 kilometer dari Perth itu kerap diwarnai kerusuhan, pembunuhan, hingga dugaan pemerkosaan.
Kamp detensi itu merupakan bagian penting dari upaya Canberra untuk menutup diri dari gelombang pencari suaka. Semua pengungsi dan pencari suaka yang datang ke Australia dibuang ke sejumlah kamp, termasuk di Christmas Island itu.


Setiap hari, banyak perahu berisi imigran dan pencari suaka dari Afghanistan dan Timur Tengah berdatangan ke Australia.

Sejak akhir 2013, di bawah pimpinan pemerintah konservatif, Australia menolak perahu-perahu itu dan menyebut para pencari suaka itu ilegal.

"Puncaknya terjadi pada Juli 2013, lebih dari 10.000 orang ditahan di tahanan imigrasi termasuk 2.000 anak-anak," kata Coleman.

"Pemerintah ini telah menghentikan kapal-kapalnya, menghentikan orang-orang jahat yang menyelundupkan perdagangan dan menyingkirkan anak-anak itu ke tahanan."
Kebijakan itu dikecam keras oleh PBB dan berbagai kelompok hak asasi manusia karena Australia dianggap tak menjamin keselamatan para pengungsi di kamp tersebut.

Baru-baru ini, Australia juga mengirimkan pelaku tindak kejahatan ke Christmas Island, menyebabkan kerusuhan hingga beberapa pencari suaka tewas.

Kekhawatiran bunuh diri di kamp itu juga kian meningkat hingga para staf diwajibkan membawa pisau untuk memotong tali yang digunakan para tahanan untuk gantung diri.

Pada 2010, sebuah kapal tenggelam akibat badai di kamp tersebut, menewaskan lebih dari 50 pencari suaka.

Pada 2001, kapal pencari suaka yang menuju Australia juga tenggelam di Indonesia dan menyebabkan 353 orang tewas. (cin/has)