Abaikan Protes PBB, India Deportasi 7 Rohingya ke Myanmar

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 15:38 WIB
Abaikan Protes PBB, India Deportasi 7 Rohingya ke Myanmar Ilustrasi pengungsi Rohingya. (Reuters/Hannah McKay)
Jakarta, CNN Indonesia -- India tetap mendeportasi tujuh orang Rohingya ke Myanmar meski rencana mereka itu telah diprotes Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tujuh pria Rohingya tersebut telah ditahan di pusat detensi imigrasi sejak 2012 lalu. Kepolisian India menyerahkan mereka kepada otoritas Myanmar melalui perbatasan di Manipur pada Kamis (4/10).

"Tujuh warga Myanmar telah dideportasi hari ini. Mereka telah diserahkan kepada otoritas Myanmar di pos perbatasan Moreh," ucap petugas kepolisian senior Assam, Bhaskar Jyoti Mahanta.
Sejumlah foto menunjukkan sebuah bus membawa tujuh orang itu ke perbatasan. Pemulangan dilakukan setelah Mahkamah Agung mementahkan banding untuk membatalkan deportasi dan memutuskan bahwa tujuh pria Rohingya itu adalah imigran ilegal.


"Bahkan negara asal mereka menerima mereka sebagai warga negara," demikian pernyataan Mahkamah Agung India seperti dikutip AFP.

India menganggap pengungsi Rohingya di negaranya sebagai ancaman keamanan. Intelijen India menilai Rohingya berkaitan dengan organisasi ekstremis.
Tahun lalu, pemerintahan Perdana Menteri Narenda Modi berencana mendeportasi seluruh Rohingya yang ada di India. Berdasarkan data PBB, sedikitnya 16 ribu Rohingya berada di India.

Sementara itu, PBB menyuarakan keprihatinannya dengan menganggap deportasi membahayakan keselamatan ketujuh Rohingya itu.

Pemulangan ini dilakukan ketika krisis kemanusiaan yang menargetkan Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, belum selesai.

Selama puluhan tahun, Rohingya dianggap sebagai imigran ilegal asal Bangladesh yang tidak pernah diakui sebagai warga negara oleh Myanmar.
Seorang pelapor khusus PBB bahkan menganggap India berisiko melanggar hukum internasional karena memulangkan pengungsi atau pencari suaka ke negara asal sehingga mengancam keselamatan mereka.

Selain PBB, sejumlah kelompok pemerhati hak asasi manusia lainnya turut mengecam langkah India.

Organisasi HAM Fortify Rights menganggap "keputusan India mendeportasi tujuh pengungsi Rohingya adalah kejam" dan berbahaya. (rds/has)