Jelang Pemilu, Kekuasaan PM Scott Morrison Diujung Tanduk

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 15:55 WIB
Jelang Pemilu, Kekuasaan PM Scott Morrison Diujung Tanduk PM Australia Scott Morrison (AAP/Mick Tsikas/via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilu Australia yang akan dilakukan akhir pekan ini akan menjadi faktor yang sangat menentukan nasib pemerintahan Scott Morrison. Namun, pemerintahan Morrison bisa jadi tengah berada di ujung tanduk. Pasalnya, pemerintahan sayap kanan tampaknya akan menggeser pemerintahan konservatif Morrison.

Keduanya memperebutkan satu kursi agar bisa memenangkan suara mayoritas. Para pemilih di wilayah pemukiman mewah di tepi pantai Sydney tampak tak akan mengunggulkan Morrison dalam pemilihan itu.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa pemerintah akan kalah di Wentworth (wilayah di Sydney) pada Sabtu mendatang. Hal ini digambarkan sebagai pemilihan umum paling penting dalam sejarah Australia modern.


Kekalahan di kursi liberal tampaknya menjadi hal yang sangat berat bagi Morrison dan pemerintahannya. Ia pun mesti bekerja keras untuk lanjut ke pemilihan umum tahun depan. Selama dua bulan pemerintahannya, Australia telah diwarnai oleh krisis dan pertikaian antar partai.

"Ini merupakan saat terburuk bagi Scott Morrison karena terkadang memenangkan pemilihan mungkin tidak cukup untuk seorang pemimpin baru. Anda harus menang secara meyakinkan," kata Nick Economou, seorang pakar politik dari Universitas Monash kepada AFP.

Para pengamat yakin kerugian dan pemerintahan minoritas dapat mengagalkan agenda legislatif Partai Liberal. Hal ini membuat Morrison menjadi perdana menteri pecundan dan memicu mosi tidak percaya atas jabatannya.

Pemilihan umum dipicu akibat pengunduran diri Malcolm Turnbull, setelah dia digulingkan dari jabatan anggota parlemen. Sebelumnya Turnbull juga telah digulingkan dari jabatan perdana menteri dalam kudeta partai.

Jelang Pemilu, Kekuasaan PM Scott Morrison Diujung TandukPemerintahan Morrison yang baru berusia dua bulan terancam (REUTERS/David Gray/Pool)
"Sejak jatuhnya Turnbull, mereka benar-benar runtuh di depan mata kita. Mereka meninggalkan seluruh kebijakan yang buruk, adanya perombakan, dan kehilangan jalan mereka," kata Economou.

Morrison menaruh harapan besar dalam pemungutan suara ini. Dirinya juga muncul beberapa kali dengan kandidat partai liberal, Dave Sharma dan kebijakan luar negeri Australia untuk merayu pemilih Yahudi di Wentworth.

Morrison juga melontarkan ide untuk memindahkan kedutaan Australia di Israel ke Yerusalem. Hal ini membuat Palestina dan Indonesia marah.

Jajak pendapat mengatakan bahwa Sharma, seorang mantan duta besar Australia untuk Israel mendapat 10 poin mengikuti calon independen, Kerryn Phelps.

Politik yang menyedihkan

Turnbull telah absen dari jejak kampanye meskipun dirinya memenangkan kursi parlemen dengan selisih 18 poin. Namun, adanya kekhawatiran atas runtuhnya suara partai liberal membuat mantan Perdana Menteri, John Howard memohon kepada pemilih liberal untuk tidak meninggalkan partai mereka.

"Ini benar-benar politik yang menyedihkan," kata John Hewson, mantan pemimpin partai Liberal dan mantan anggota Wentworth kepada AFP.

"Mereka hanya ingin menang dengan segala cara, mereka tidak peduli apa yang mereka lakukan untuk melakukan itu, mereka mungkin juga akan memberikan makan kepada masyarakat yang tidak puas dengan pemerintah. Jadi itu adalah panggilan besar di pihak mereka untuk menjalankannya seperti itu," kata dia.

"Orang-orang yang kecewa tidak hanya mereka yang menjalankan itu dalam sektor ekonomi. Ini juga termasuk mereka yang merasa pandangan atau kepentingan mereka telah diabaikan. Beberapa kali pemerintah bergerak dari satu tujuan jangka pendek ke yang lain tanpa narasi yang jelas tentang di mana Australia berada dan di mana ini akan berlanjut," kata Joseph Camilleri, seorang profesor di Universitas La Trobe kepada AFP.

Phelps telah berkampanye mengenai isu-isu nasional seperti mengatasi perubahan iklim dan perlakuan Australia terhadap para pencari suaka.

Morrison berharap suara Wentworth tidak membuatnya menjadi korban berikutnya, karena menyingkirkan perdana menteri dianggap menjadi hal yang biasa di Australia. (cin/eks)