Rencana AS Mundur dari Perjanjian Nuklir Dinilai Berbahaya

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 21/10/2018 20:01 WIB
Rencana AS Mundur dari Perjanjian Nuklir Dinilai Berbahaya Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov (AFP PHOTO / POOL / FABRICE COFFRINI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana Amerika Serikat untuk menarik diri dari perjanjian senjata nuklir dinilai Rusia sebagai langkah yang sangat berbahaya.

"Ini akan menjadi langkah yang sangat berbahaya. Saya yakin, ini akan memancing kecaman global yang serius," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, kepada kantor berita TASS, melansir AFP.

Traktat Senjata Nuklir Jarak Menengah atau INF sudah berjalan selama tiga dekade sejak Presiden AS, Ronald Reagan menandatanganinya pada 1987 silam.


Perjanjian itu, kata Ryabkov, punya peran penting untuk keamanan internasional di bidang senjata nuklir dan pemeliharaan stabilitas.


Rusia mengutuk apa yang dilakukan AS. Mereka menyebut langkah itu sebagai upaya AS untuk mendapatkan konsesi melalui metode 'pemerasan'.

Jika AS terus bertindak 'kasar' dan mundur secara sepihak dari perjanjian internasional tersebut, Rusia tak akan tinggal diam.

"Kami tidak punya pilihan lain selain melakukan pembalasan, termasuk melibatkan teknologi militer," tegas Ryabkov seraya menambahkan bahwa pihaknya tak ingin sampai pada tindakan pembalasan tersebut.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya Presiden Donald Trump mengumumkan rencana AS untuk meninggalkan INF pada Sabtu (20/10). Dia beralasan bahwa Moskow telah melanggar kesepakatan.


Namun, Ryabkov membantah tuduhan pelanggaran kesepakatan sebagaimana dilontarkan Trump. Dia justru melemparkan tuduhan tersebut kepada AS.

"Kami tidak melanggar, kami hanya mengamatinya dengan cara yang sangat ketat," bahtah Ryabkov. Sebaliknya, Rusia, kata dia, telah sabar memperhatikan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan AS.

Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, akan berada di Moskow, Rusia, pada Minggu (21/10). Kedatangannya itu dilakukan menjelang pertemuan puncak antara Trump dan pemimpin Rusia, Vladimir Putin.

Ryabkov sendiri berharap akan mendapatkan penjelasan yang lengkap dari pertemuan yang bakal dilakukan selama dua hari itu.

"Kami ingin mendengar penjelasan yang substantif dan jelas dari apa yang ingin dilakukan AS," kata Ryabkov.

Diketahui, hubungan AS-Rusia sedang berada di bawah tekanan berat atas tuduhan intervensi Moskow dalam Pilpres AS 2016 lalu, dukungan Rusia kepada Pemerintah Suriah, serta konflik di Ukraina.

Kedua pemimpin negara diperkirakan bakal berada di Paris, Prancis pada 11 November 2018 mendatang untuk menghadiri peringatan yang menandai berakhirnya Perang Dunia I. (asr/asr)