Tarik Perjanjian, AS Sebut Siap Kembangkan Senjata Nuklir

Tim , CNN Indonesia | Selasa, 23/10/2018 09:55 WIB
Tarik Perjanjian, AS Sebut Siap Kembangkan Senjata Nuklir Ilustrasi (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Donald Trump menyebut bahwa Amerika Serikat bersiap untuk membangun persenjataan nuklirnya, Senin (22/10). Hal ini diumumkan Trump setelah sebelumnya ia menyebut bahwa AS akan menarik diri dari perjanjian nuklir era Perang Dingin, Sabtu (20/10)

Saat AS mengumumkan hal tersebut, Rusia telah memperingatkan bahwa penarikan itu dapat membahayakan keamanan global.

Trump memicu kekhawatiran secara global pada akhir pekan dengan mengatakan ia ingin keluar dari Perjanjian Angkatan Nuklir Pasukan Jarak-Tiga-tahun (INF) yang ditandatangani mantan presiden AS Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev, pemimpin Soviet terakhir.


Dalam menjelaskan keputusannya, Trump mengatakan kepada wartawan di Washington bahwa Rusia "tidak mematuhi semangat perjanjian itu atau perjanjian itu sendiri."

"Sampai orang-orang sadar, kami akan membangunnya," katanya, mengacu pada persediaan nuklir Amerika. "Ini seharusnya sudah dilakukan bertahun-tahun yang lalu."

"Ini ancaman bagi siapa pun yang Anda inginkan. Dan itu termasuk China. Dan itu termasuk Rusia," lanjut presiden AS. "Dan itu termasuk orang lain yang ingin memainkan permainan itu. Kamu tidak bisa melakukan itu. Kamu tidak bisa memainkan game itu."

"Sampai mereka menjadi pintar, tidak akan ada orang yang bahkan akan dekat dengan kita."

Sementara itu, Moskow telah siap untuk menjalin hubungan dengan Amerika Serikat untuk menyelamatkan perjanjian itu. Hal ini disampaikan Dewan Keamanan Rusia setelah pertemuan antara pemimpinnya Nikolai Patrushev dan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton.

Pembahasan keduanya dilakukan Senin (22/10) dalam pembicaraan yang berlangsung "hampir lima jam," seperti disebutkan seorang juru bicara dewan keamanan itu kepada AFP.

Keduanya juga membahas kemungkinan perpanjangan pernjanjian baru terkait perjanjian kontrol senjata nuklir selama lima tahun dan akan berakhir pada 2021, kata sumber tadi.

Namun, Bolton mengatakan kepada Kommersant bahwa Washington ingin "menyelesaikan masalah INF terlebih dahulu."

Bolton diperkirakan akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin hari ini. (eks/eks)