Bahas Penarikan Perjanjian Nuklir, AS Bertemu Rusia

cin & Tim , CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 12:18 WIB
Bahas Penarikan Perjanjian Nuklir, AS Bertemu Rusia Ilustrasi (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), John Bolton bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk terkait penarikan diri AS dari pakta nuklir era Perang Dingin dan soal pengawasan senjata nuklir pada Selasa (23/10).

Bolton mengadakan pertemuan dengan Putin selama 90 menit di Kremlin. Pembicaraan mereka juga menghasilkan kesepakatan bagi Putin untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden AS, Donald Trump di Paris pada bulan depan.

Namun, pertemuan dengan Rusia tidak menghasilkan terobosan baru terkait AS yang ingin meninggalkan Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF).


Langkah ini dicela oleh Rusia sebagai tindakan yang berbahaya dan banyak negara Eropa telah memperingatkan hal itu bisa memulai perang senjata era Perang Dingin kembali.

"Ada realitas strategi baru di luar sana," kata Bolton.

"Soal mengajukan pemberitahuan resmi soal penarikan masih belum diajukan, namun akan diajukan ketika waktunya tepat," kata dia menambahkan.

Putin meminta AS untuk tidak meninggalkan pengawasan nuklir, namun Bolton mengatakan bahwa AS akan mengabaikan keberatan Rusia setelah rudal Rusia menjadi ancaman.

Saling tuduh

Selama beberapa tahun, AS menuduh Rusia melanggar perjanjian dengan mengembangkan rudal baru. Rusia membantah hal ini dan Bolton mengatakan penolakan dari Rusia untuk mengakui tuduhan itu menjawab bahwa perjanjian tidak bisa dipertahankan.

"Bagaimana Anda meminta orang-orang Rusia untuk mematuhi sesuatu yang mereka kira tidak mereka langgar?" kata Bolton.

Bolton mengatakan bahwa Rusia pertama kali secara ilegal menguji rudal pada 2008 dan itu merupakan pelanggaran yang besar.

Sebelum pembicaraan dimulai, seorang juru bicara Kremlin mengatakan bahwa perjanjian INF memiliki titik lemah. Namun cara AS yang meninggalkan perjanjian itu tanpa menggusulkan pengganti baru adalah berbahaya.

Namun, Asisten Kebijakan Luar Negeri Kremli, Yuri Ushakov mengatakan kepada wartawan bahwa Rusia memandang kunjungan ini sebagai tanda bahwa AS ingin melanjutkan dialog masalah ini.

Trump mengatakan bahwa dirinya mundur dari perjanjian ini karena ada pelanggaran Rusia atas perjanjian itu. Keluarnya AS dari perjanjian juga membebaskan AS untuk menghadapi nuklir China.

Bolton menjelaskan bahwa AS bermaksud untuk melanjutkan penarikan dan menyebut bahwa perjanjian itu sudah "kadaluwarsa". Perjanjian itu dianggap menghambat AS.

Intervensi Rusia

Agen-agen intelijen AS telah menetapkan bahwa Rusia melakukan intervensi dalam pemilu 2016 saat Trump melawan lawan Demokratnya, Hillary Clinton.

Beberapa mantan pejabat intelijen senior AS mengatakan bahwa mereka percaya campur tangan Rusia pada Pemilu AS memberi dampak.

Pada Mei lalu, Mantan Direktur Intelijen Nasional, James Clapper mengatakan bahwa, "bagi saya, itu hanya melebihi logika dan kepercayaan bahwa mereka tidak mempengaruhi pemilihan dan itu adalah keyakinan saya bahwa mereka benar-benar mengubahnya."

Dengan pernyataan FBI, Rusia lagi-lagi menargetkan pemilihan jangka menengah AS bulan November, Bolton mengatakan dia berharap tidak akan ada campur tangan.

Bolton telah berbicara kepada Rusia bahwa upaya mereka sebelumnya telah menghancurkan kemampuan AS dan Rusia untuk bekerja bersama, sementara tidak menghasilkan apapun sebagai imbalan bagi Rusia.

"Saya pikir ini sebuah pelajaran, jangan main-main dengan pemilihan Amerika," katanya. (eks)