ANALISIS

Erdogan Pegang Semua Kartu dalam Misteri Kasus Khashoggi

CNN International, CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 15:35 WIB
Erdogan Pegang Semua Kartu dalam Misteri Kasus Khashoggi Presiden Recep Tayyip Erdogan dianggap sedang berada 'di atas angin' karena memegang semua kartu politik antara AS dan Saudi berkat kasus Jamal Khashoggi. (Murat Cetinmuhurdar/Presidential Palace/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Recep Tayyip Erdogan dianggap baru saja menyampaikan salah satu pengungkapan fakta paling hebat dalam kariernya saat berbicara di hadapan parlemen mengenai kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi yang tewas di konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Setelah dua pekan diam-diam membocorkan sejumlah fakta kepada pers, Turki akhirnya dapat memunculkan impresi bahwa mereka bisa membeberkan bukti yang mengaitkan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dengan pembunuhan jurnalis Washington Post tersebut.

Namun, pernyataan Erdogan pada Selasa (23/10) itu juga dianggap cukup cerdas, bahkan dapat menguntungkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, selaku sekutu Saudi karena pidato itu tak menuduh langsung Riyadh dalam kasus ini.
Meski demikian, Presiden Turki itu dengan cerdas membeberkan beberapa fakta, juga bocoran terkait kecurigaan beberapa pejabatnya atas kasus Khashoggi.


Dengan demikian, "Pedang Damocles" kini berada di tengah AS dan Saudi, menunggu pihak mana yang bakal dihunus, terutama di tengah ketidakjelasan sikap Trump.

Trump sempat mengancam bakal mengambil langkah keras terhadap dalang di balik pembunuhan Khashoggi. Ia kemudian melunak, diduga karena pertaruhan kerja sama ekonomi dengan Saudi. Namun kemudian, ia kembali mempertanyakan keterlibatan sekutunya itu.

Kini, Trump sudah mengirimkan Direktur Badan Intelijen Pusat AS (CIA), Gina Haspel, ke Turki. Tak diragukan lagi, Haspel akan mendesak Erdogan untuk membocorkan lebih banyak fakta, termasuk rekaman bukti "pembunuhan keji" Khashoggi.
Erdogan Pegang Semua Kartu dalam Misteri Kasus KhashoggiIlustrasi penyelidikan kasus Jamal Khashoggi. (Reuters/Kemal Aslan)
Erdogan memang sama sekali tak menyinggung rekaman tersebut dalam pidatonya. Namun, ia membeberkan sejumlah fakta baru, seperti detail pergerakan tim yang diduga dikirim langsung dari Saudi untuk membunuh Khashoggi.

Ia pun dengan tegas menepis klaim Saudi bahwa Khashoggi tewas di dalam konsulat di Istanbul karena ketidaksengajaan. Erdogan lantas meminta penjelasan Saudi atas berbagai pertanyaan, termasuk keberadaan jasad Khashoggi.

"Mengapa ada tim Saudi dengan 15 orang itu di Turki? Atas perintah siapa? Mengapa konsulat tidak langsung dibuka untuk para penyelidik? Mengapa banyak pernyataan berbeda dari Saudi? Siapa kolaborator lokal yang menghilangkan jasad Khashoggi? Saudi harus menjawab semua pertanyaan ini," katanya.
Hingga akhirnya, Erdogan menyimpulkan bahwa "pembunuhan menjijikan" ini tak dapat terjadi tanpa perencanaan dan persetujuan dari pejabat tingkat tinggi, tudingan yang selalu ditampik Saudi.

Di akhir pidato 20 menitnya, Erdogan pun meminta agar 18 tersangka kasus Khashoggi yang sudah ditahan Saudi diadili di Turki.

Kematian Khashoggi di ambang pintu wilayah kekuasaannya pada akhirnya dianggap memberikan kesempatan terbesar bagi Erdogan untuk menghabisi lawannya di kawasan, Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS)
Banyak pejabat Turki menganggap MbS akhirnya harus membayar harga segala kekejaman yang ia halalkan demi mencapai puncak pemerintahan.

Jika para pejabat Saudi terus menutup mata akan kekejian MbS, Erdogan dianggap sedang membangun konsensus internasional sehingga Putra Mahkota itu bisa mendapatkan pesan tegas.

Sebaliknya, sejumlah pengamat menganggap Erdogan sangat berlebihan karena di Turki sendiri, ia memenjarakan segudang jurnalis dan pengkritik pemerintahan.

Namun, MbS memang dianggap sebagai salah satu ancaman pemerintahan Turki. Masih berusia 33 tahun, MbS sudah digadang menjadi pewaris takhta Saudi dan memegang kekuasaan besar di kawasan.

[Gambas:Video CNN]

Pidato Erdogan ini pun lebih dianggap sebagai kisi-kisi langkah politiknya ketimbang desakan untuk mempertanggungjawabkan kematian Khashoggi.

Saat ini, Erdogan tak harus berupaya keras karena tiga orang paling penting bagi kariernya sudah mendengar pesannya dengan sangat jelas.

Raja Salman, Trump, dan Putra Mahkota sudah tahu langkah Erdogan selanjutnya: membocorkan informasi detail hingga ia mendapatkan yang diinginkan, yaitu pengadilan 18 pejabat senior Saudi di tangannya, penjegalan langkah MbS, dan kejutan dari Presiden AS. (has/has)