Putin Enggan Komentari Kasus Khashoggi

CNN Indonesia | Rabu, 24/10/2018 19:33 WIB
Putin Enggan Komentari Kasus Khashoggi Presiden Rusia, Vladimir Putin, enggan mengomentari dugaan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi demi menghindari kemunduran hubungan dengan Arab Saudi. (Sputnik/Alexei Druzhinin/Kremlin via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Rusia, Vladimir Putin, enggan mengomentari dugaan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi demi menghindari kemunduran hubungan dengan Arab Saudi.

"Mengapa kita perlu mengambil beberapa langkah untuk menuju kemunduran hubungan kita jika kita tidak mengerti apa yang terjadi? Namun, jika seseorang memahami dan percaya bahwa pembunuhan itu terjadi, maka saya berharap ada buktinya," katanya.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pun mengatakan bahwa Rusia mengakui pernyataan resmi pemerintah Saudi yang mengatakan bahwa kerajaan tidak ikut campur dalam kasus pembunuhan tersebut.
Banyak pengamat menduga Rusia bersikap seperti ini agar tak membuka sejarah kelamnya sendiri terkait pembunuhan wartawan pengkritik Moskow.


"Jelas orang seperti Putin tidak akan memedulikan pembunuhan seorang wartawan, terutama setelah apa yang baru saja di Inggris (peracunan Skripal)," kata Mark N Katz, profesor bidang pemerintahan di Universitas George Mason.

Sejak 1992, Rusia tercatat terlibat dalam pembunuhan 13 jurnalis. Salah satu korban paling terkenal adalah Anna Politkovskaya, wartawan yang dikenal dengan liputan dan kritiknya terkait konflik Chencnya.
"Dalam banyak pembunuhan itu, kami belum melihat dalangnya dibawa ke pengadilan," kata Gulnoza Said, koordinator perlindungan wartawan untuk Eropa dan Asia Tengah.

"Pihak berwenang Rusia memiliki catatan yang tidak kalah brutal dari apa yang kita lihat dalam pembunuhan Khashoggi."

Lebih jauh, Mason menganggap kisruh Khashoggi ini dapat menjadi celah bagi Rusia untuk mengeratkan hubungan dengan Saudi ketika negara lain menjauhi Riyadh.

[Gambas:Video CNN]

"Putin melihat hubungan Saudi dan negara Barat menurun, dan dia siap untuk mengambil keuntungan dari itu," ucap Mason.

"Rusia sepenuhnya sadar bahwa mereka tidak mungkin menggantikan AS dan negara Barat lain sebagai sekutu utama, tapi mereka senang mengambil bagian itu."

Sementara itu, negara Barat menjaga jarak dengan Riyadh yang dicurigai menjadi dalang di balik pembunuhan Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. (cin/has)