Palestina Setop Akui Israel, Hentikan Kerja Sama Keamanan

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 11:48 WIB
Palestina Setop Akui Israel, Hentikan Kerja Sama Keamanan Warga Palestina dicegat aparat Israel saat hendak menunaikan salat Jumat di Tepi Barat. (REUTERS/Mussa Qawasma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Palestina memutuskan menangguhkan pengakuan terhadap Israel, dan menghentikan sementara koordinasi dalam bidang keamanan dengan negara tersebut.

Dewan Pusat Palestina (Palestinian Central Council/PCC), salah satu badan tertinggi di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), mengatakan keputusan tersebut berlaku sampai Israel mengakui Palestina sebagai sebuah negara.

"Seiring dengan penolakan Israel untuk mematuhi kewajibannya di bawah perjanjian yang telah disepakati dengan Palestina, PCC memerintahkan PLO dan otoritas Palestina untuk mengakhiri kewajiban mereka terhadap kesepakatan mereka dengan otoritas pendudukan (Israel)," demikian bunyi pernyataan PCC usai menggelar rapat di Ramallah selama dua hari, pada Selasa (30/10).



Dalam pernyataan itu, PCC menyatakan Palestina akan mengakui Israel sebagai negara jika negara tersebut lebih dulu mengakui Palestina sebagai negara berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kotanya.

Selama ini, Palestina dan Israel berkoordinasi erat terkait hal keamanan, terutama dalam menjaga perbatasan di Tepi Barat.

Dikutip AFP, penangguhan koordinasi ini dikhawatirkan bisa semakin memicu kekerasan terjadi di perbatasan.

Sebab, sejak Amerika Serikat memutuskan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, bentrok antara warga Palestina dan otoritas Israel di perbatasan seperti Tepi barat dan Gaza terus meningkat.


Setidaknya 200 warga Palestina tewas di tangan tentara Israel di perbatasan sejak protes rutin terhadap pendudukan Israel berlangsung pada 30 Maret lalu.

Akhir pekan lalu, Israel dilaporkan meluncurkan serangan udara ke Gaza hingga menewaskan tiga anak laki-laki.

Di tempat terpisah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan akan menolak setiap promosal perdamaian konflik Palestina-Israel yang digagas Presiden AS Donald Trump.

Abbas menegaskan perjanjian damai yang digagas AS tidak akan lolos, seperti kesepakatan yang digagas Inggris pada 1917 silam yang dikenal dengan Deklarasi Balfour.


Deklarasi Balfour berisi janji Inggris membentuk sebuah negara untuk etnis Yahudi di wilayah Palestina.

"Jika Deklarasi Balfour lolos, kali ini tak akan lolos," kata Abbas. (rds/ayp)