Janji Pesta Pilot Lion Air JT-610 Berujung Kabar Duka

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 12:56 WIB
Janji Pesta Pilot Lion Air JT-610 Berujung Kabar Duka Proses evakuasi pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pilot pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang, Bhavye Suneja (31) ternyata sempat berjanji kepada istri, Garima Sethi dan rekan-rekannya akan menggelar pesta di kampung halamannya, New Delhi, India. Namun, harapan untuk bisa bersuka cita berubah menjadi duka lantaran Bhavye turut menjadi korban dalam peristiwa itu.

Sebagaimana dilansir The Indian Express, Selasa (30/10), kisah itu disampaikan oleh salah satu sahabat Garima, Manvi Dua. Dia menyatakan Garima dan Bhavye sudah berjanji akan kembali ke New Delhi pada 5 November mendatang.

"Dia (Bhavye) sudah meminta saya supaya siap-siap untuk pesta. Dia seharusnya datang ke Delhi pada 5 November. Saya benar-benar tidak percaya," kata Manvi.


Manvi adalah teman dekat Garima. Keduanya sempat bekerja bersama di bagian keuangan kantor berita itu. Namun, selepas disunting oleh Bhavye, Garima mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih menetap bersama sang suami di Jakarta. Sebab, Bhavye bekerja sebagai pilot di Lion Air. Dia mengaku sempat diberitahu oleh Garima kalau suaminya memujinya setelah melihat dia mengenakan kain sari dua hari lalu.


Manvi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya atas kejadian itu. Dia mencoba menahan air matanya supaya tidak menetes saat melihat foto temannya itu di ponselnya, tetapi tidak sanggup.

Manvi melanjutkan, Bhavye dan Garima memang selalu pulang kampung setiap dua tahun sekali, sekaligus jalan-jalan. Bahkan, rencana pesta itu sudah disiapkan jauh-jauh hari meski hanya mengundang teman-teman dekat mereka yang jumlahnya sekitar lima hingga enam orang.

"Dia sudah meminta saya siap-siap menyambutnya pulang kampung. Kami sudah tidak sabar menunggu merayakan Diwali dan sekalian jalan-jalan," ujar Manvi.

"Mereka sudah berencana mau melancong ke Maneshwar di Uttarakhand kalau mereka pulang kampung," ujar Rohit Singh, seorang sahabat Bhavye dan Garima yang juga bekerja di Indian Express.

Manvi merasa Bhavye sudah seperti kakak kandung. Sedangkan kenangan Rohit paling membekas adalah soal hobi Bhavye yaitu menyetir.


"Dia suka banget menyetir. Pokoknya dia enggak pernah membolehkan orang lain menyetir mobilnya," ujar Rohit.

Rohit menyatakan Bhavye dan Garima sebenarnya adalah pasangan yang dijodohkan. Namun, dia melihat keduanya sangat mesra.

"Saya pernah diberi drum oleh Bhavye saat ulang tahun. Benar-benar tidak bisa dilupakan," kata Rohit.

Saat ini Bhavye memang pulang. Namun untuk selamanya.

Pemerintah Indonesia menyatakan kecil kemungkinan ada korban selamat dalam kecelakaan itu.

Pesawat Boeing 737-300 MAX 8 diterbangkan Suneja dengan kode lambung PK-LQP kabarnya dibuat pada 2018, dan baru dioperasikan mulai 15 Agustus lalu.

Pesawat itu dirakit di pabrik Boeing di Renton, Washington, Amerika Serikat. Lion Air adalah salah satu maskapai paling awal memesan burung besi itu. Hingga saat ini mereka sudah menerima dan mengoperasikan delapan pesawat itu.

Boeing 737-300 MAX 8 dengan mesin LEAP buatan CFM International diklaim lebih irit, rendah emisi, dan tidak terlampau bising.


Pesawat nahas itu tercatat mengangkut 189 orang penumpang, termasuk 7 awak pesawat. Nasib mereka hingga saat ini belum diketahui.

Pesawat itu jatuh di laut dengan kedalaman 30-35 meter. Pesawat rute Jakarta-Tanjung Pinang itu lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 06.21 WIB dengan tujuan Bandara Depati Amir. Namun, sekitar pukul 06.33 WIB pesawat Lion Air JT-610 itu hilang kontak lalu dikonfirmasi jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat. Sampai saat ini proses evakuasi terus dilakukan. (ayp/ayp)