Mahathir Anggap ASEAN Basa-Basi, Desak Kerja Sama Ekonomi

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 10:45 WIB
Mahathir Anggap ASEAN Basa-Basi, Desak Kerja Sama Ekonomi Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad. (REUTERS/Lai Seng Sin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengkritik peran Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) yang dianggap kurang terasa. Dia merasa organisasi dan ikatan itu harus benar-benar bermanfaat bagi sesama, dan bukan cuma menggelar pertemuan tanpa aksi serta hasil konkret.

"Kita (ASEAN) harus menekankan kerja sama yang lebih luas lagi dan kerja sama itu harus nyata. Tidak baik jika kita terus saja berbicara soal kerja sama (dalam pertemuan) tetapi ketika pulang, kita masih atau bahkan menjadi lebih protektif," kata Mahathir seperti dilansir The Strait Times, Rabu (14/11).

"Jika seperti itu, Anda hanya menambah hambatan-hambatan bagi kerja sama ASEAN," tambah Mahathir.
Pernyataan itu diutarakan Mahahtir pada Selasa menjelang pertemuan tingkat tinggi 10 pemimpin negara anggota ASEAN di Singapura.


Mahathir mengatakan salah satu hambatan integrasi dalam ASEAN adalah rasa curiga negara-negara anggota kurang berkembang terhadap keterbukaan dalam organisasi, yang dikhawatirkan malah menghambat pertumbuhan mereka.

"Kita harus ingat bahwa negara-negara yang kurang berkembang menaruh rasa agak curiga, bahwa mereka sangat khawatir terkait perkembangan mereka sendiri dan mereka berpikir bahwa membuka pasar mereka dapat mengakibatkan masuknya barang-barang dari negara ASEAN lainnya," ucap Mahathir.

"Jadi (rasa curiga) di sini cenderung terlihat dari membatasi produk impor tertentu," ujar Mahathir
Mahathir menyayangkan bahwa sepuluh negara anggota ASEAN belum benar-benar memaksimalkan potensi mereka sebagai blok ekonomi di kawasan, meski telah berdiri sejak 1967 lalu.

Menurut PM berusia 93 tahun itu, Asia Tenggara merupakan pasar ekonomi yang sangat besar yang memiliki jumlah penduduk mencapai 700 juta orang.

Mahathir bahkan menuturkan ASEAN bisa lebih berkontribusi pada peningkatan pendapatan per kapita negara anggota jika organisasi itu memfokuskan kerja sama untuk memenuhi kebutuhan penduduk Asia Tenggara.

"Saya harus menjadi believer (orang yang optimis). Jika Anda menyerah pada ASEAN, kita semua akan kembali ke masa-masa di mana tidak ada kerja sama dan saling pengertian dalam menghadapi masalah-masalah di kawasan. Itu hanya akan memicu negara-negara menjadi konfrontatif," ujarnya.
"Modelnya adalah China. China dahulu merupakan negara miskin, pendapatan per kapita mereka sangat rendah tapi mereka memiliki populasi penduduk yang sangat besar, dan mereka memanfaatkan jumlah populasi besar itu untuk tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat," lanjut Mahathir. (rds/ayp)