PM Australia Belum Putuskan Relokasi Kedubes ke Yerusalem

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 13:05 WIB
PM Australia Belum Putuskan Relokasi Kedubes ke Yerusalem Perdana Menteri Australia, Scott Morrison. (Reuters/David Gray)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan niat memindahkan kedutaan besar di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem belum diputuskan. Morrison mengatakan persoalan itu masih akan dibahas dalam waktu dekat.

Pernyataan itu diutarakan Morrison setelah menemui Presiden Joko Widodo di sela-sela rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-33 di Suntec Convention Centre, Singapura, Rabu (14/11).

"Terkait pertanyaan, terkait posisi Australia yang saya angkat beberapa waktu lalu dalam kaitan hubungan dengan Israel, saya masih berdiskusi bahwa kami (Australia) tengah melihat peluang bagaimana memecahkan masalah itu (relokasi kedutaan) dan menyatakan sikap," kata Morrison kepada wartawan seperti dikutip The Guardian.


"Saya berniat melakukan itu dalam waktu dekat dan saya melakukannya berdasarkan prinsip-prinsip utama dalam menyelesaikan masalah itu," katanya menambahkan.
Wacana pemindahan kedubes Australia ke Yerusalem memicu kecaman lantaran dianggap bisa merusak proses perdamaian di Timur Tengah. Namun, Morrison beralasan langkah itu dia ambil karena Australia ingin melihat progres perdamaian antara Israel-Palestina melalui solusi dua negara (two state solution).

"Perspektif apa pun yang Anda miliki terkait masalah ini, pasti ada frustasi yang meluas tentang bagaimana mencapai kemajuan dalam masalah ini. Dan kita semua sama-sama ingin melihat kemajuan itu," tutur Morrison.

Morrison menyatakan niat untuk merelokasi kedutaan mereka di Israel tetap mengacu kepada prinsip-prinsip solusi dua negara, dan berpegang kepada keputusan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Selain membahas rencana pemindahan kedutaan Australia ke Yerusalem, dalam pertemuan tersebut, Morrison mengatakan dia dan Jokowi juga fokus membahas penyelesaian perjanjian perdagangan bebas senilai US$11,4 miliar (Rp17,3 triliun) antara Australia-Indonesia.

Perjanjian yang tertuang dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) itu telah digodok selama lebih dari 1 dekade. Semula, kedua negara menargetkan IA-CEPA bisa diteken akhir tahun ini.

Ada kemungkinan target itu meleset. Sejumlah pihak menuturkan hal itu disebabkan karena merenggangnya relasi Indonesia-Australia terkait kisruh relokasi kedutaan ini.

Kendati demikian, Morrison memastikan masalah relokasi kedutaan tidak mempengaruhi kesepakatan IA-CEPA.
Temui Jokowi, PM Australia Ngotot Geser Kedutaan ke YerusalemPerdana Menteri Australia, Scott Morrison. (REUTERS/Marcos Brindicci)

"Kami telah lama memiliki kemitraan komprehensif dengan Indonesia dan itu akan terus berjalan di masa depan. Poin kedua adalah, terkait masalah perjanjian perdagangan, tidak berkaitan dengan posisi politik luar negeri Australia," kata Morrison.

Harapan Kosong Indonesia

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo belum bersikap soal wacana pemindahan kedubes Australia dari Tel Aviv ke Yerusalem. Dia bahkan masih berharap Australia mau membantu perdamaian antara Israel dan Palestina.

"Presiden Republik Indonesia kembali menyampaikan posisi Indonesia dan mengharapkan Australia dapat membantu mewujudkan perdamaian Palestina dan Israel berdasarkan two-state solution," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang mendampingi Presiden Jokowi di Singapura.
Beberapa waktu lalu Retno melayangkan protes keras kepada Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne atas rencana pemindahan kedutaan besar ke Yerusalem. Sebab sampai saat ini Indonesia tidak mengakui keberadaan Israel karena dianggap menjajah Palestina. Namun, Indonesia nampaknya tidak bisa leluasa mengambil keputusan karena sedang dalam perundingan kontrak perdagangan dengan Australia. Apalagi nilainya juga cukup besar.

Malah Australia mengungkit bakal mengevaluasi kembali apakah masih relevan mereka menyumbang ratusan juta dolar kepada Indonesia melalui program AusAid. Sebab bantuan dana itu banyak diserap oleh organisasi dan lembaga pendidikan Indonesia.


Catatan redaksi: Judul artikel ini diubah pada Rabu (14/11), pukul 16.45 WIB, sebelumnya berjudul "Temui Jokowi, PM Australia Ngotot Geser Kedutaan ke Yerusalem" karena ada kekeliruan persepsi redaksi. (rds, chri)