Sejumlah Aktivis Muda China Hilang Diduga Diculik Pemerintah

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 14:25 WIB
Sejumlah Aktivis Muda China Hilang Diduga Diculik Pemerintah Ilustrasi mahasiswa di China. (AFP PHOTO / Fred DUFOUR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbagai kelompok pegiat mahasiswa di China mulai dilanda ketakutan, setelah satu persatu rekan mereka hilang usai memprotes kebijakan pemerintah soal upah dan perlindungan hak-hak buruh. Diduga itu adalah salah satu cara pemerintah Negeri Tirai Bambu membungkam kritik dari para mahasiswa.

Sejak Agustus lalu, sebanyak sembilan aktivis mahasiswa ditahan secara paksa di berbagai kota akibat melakukan kampanye untuk hak dan perlindungan buruh.

"Seluruh aktivis di Universitas Peking seperti berada di bawah teror. Petugas keamanan akan datang jika Anda ketahuan membagikan selebaran ataupun anda hanya sedang berada di tempat itu," kata seorang mahasiswa seperti dilansir CNN, Rabu (14/11).


Pada Jumat (9/11) pekan lalu, seorang aktivis lulusan Universitas Beijing, Zhang Shengye diserang dan diseret ke dalam mobil oleh beberapa orang tak dikenal.
"Seseorang memeluk saya dan mendorong saya ke depan. Kacamata saya hilang dan saya didorong ke tanah," kata Shengye melalui surat terbuka kepada aktivis.

"Saya bertanya siapakah dirinya, seorang laki-laki menjawab dengan keras 'berhenti berteriak atau aku akan memukulmu lagi'," tulisnya.

Sebelumnya, seorang aktivis Universitas Peking, Yue Xin menerbitkan sebuah surat terbuka yang meminta seluruh mahasiswa di China berkumpul dalam mendukung hak para buruh dan menandatangi petisi. Namun, ketika perhatian publik mulai meningkat, pemerintah langsung mengerahkan aparat keamanan untuk menghentikan kampanye aktivis mahasiwa.

Yue pun menghilang bersama dengan Shen Mengyu, aktivis lulusan Universitas Sun Yat-sen. Hingga saat ini, belum ada pemberitahuan resmi dari kepolisian dan keberadaannya keduanya tidak diketahui.
Pada Juni lalu, sekelompok pekerja di Shenzhen Jasic Technology berkumpul untuk membuat serikat pekerja. Namun, pemerintah menolak permintaan mereka.

Sebulan kemudian, kelompok itu melakukan aksi unjuk rasa untuk memperjuangkan hak dan perlindungan buruh. Belasan pekerja ditahan dan dipukuli oleh petugas kepolisian.

Dianggap Ancaman

Pemerintah China nampaknya melihat aksi protes dari kelompok aktivis mahasiswa berideologi Marxisme dalam beberapa tahun terakhir dianggap masalah. Presiden China, Xi Jinping juga bersikap menindak keras berbagai bentuk kritik terkait kebijakannya mengenai hak dan perlindungan buruh.

Para pegiat menyebut pemerintah China sengaja membungkam suara mereka dengan keras. Menurut pakar tenaga kerja internasional dan komparatif di Universitas Cornell, Eli Friedman melihat ada kejanggalan dalam hal ini. Sebab meski pemerintah China mendukung mahasiswa mempelajari Marxisme, tetapi mereka tetap tidak terima jika dikritik soal kebijakan.

"Gelombang penindasan yang kami hadapi ini adalah strategi untuk menutup ruang bagi kebebasan akademik," kata dia kepada CNN.

Meskipun ada penculikan dan serangan, beberapa aktivis tidak menyerah untuk menemukan ide untuk terus berkampanye.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka yang mengumpulkan kayu bakar untuk orang lain dibekukan sampai mati di dalam salju. Dan kita tidak bisa membiarkan mereka yang menciptakan jalan kebebasan terjebak di dalam duri," tulis mereka dalam surat terbuka. (cin/ayp)