Cerita 'Perang' AS-China Bikin Runyam KTT APEC 2018

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 17:18 WIB
Cerita 'Perang' AS-China Bikin Runyam KTT APEC 2018 Rapat dalam KTT APEC 2018 di Port Moresby, Papua Nugini. (REUTERS/David Gray)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) sudah selesai digelar pada Minggu pekan lalu. Namun, di balik itu, ego dan perseteruan antara Amerika Serikat dan China yang berusaha berebut pengaruh justru merusaknya, sehingga membuat negara-negara peserta lain termasuk Indonesia tak bisa berbuat apa-apa.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, APEC gagal menghasilkan deklarasi bersama dalam pertemuan puncak para anggotanya yang diselenggarakan di Papua Nugini (PNG) selama akhir pekan lalu.

Perselisihan antara Amerika Serikat dan China membuat para pemimpin negara APEC gagal menyepakati pernyataan bersama dalam pertemuan di Port Moresby tersebut.


"Ada perbedaan pandangan yang tajam di beberapa elemen yang berkaitan dengan perdagangan yang membuat kesepakatan bersama tidak tercapai," kata Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau yang hadir dalam kegiatan itu.

Presiden China Xi Jinping yang hadir dalam pertemuan itu mencoba meyakinkan negara lain soal perjanjian dagang mereka. Mereka menjanjikan hal itu tidak menjebak atau mempunyai agenda terselubung. Padahal selama ini negara-negara di kawasan Asia Pasifik merasa China menerapkan 'Diplomasi Buku Utang'. Yakni menekan debitur besar untuk mengikuti kemauan mereka karena terlilit utang. Xi juga mengkritik kebijakan dagang proteksionis AS yang dianggap gagal.
Sedangkan Wakil Presiden AS Mike Pence yang juga ada dalam acara itu meminta supaya negara-negara di Asia Pasifik tidak perlu tergoda dengan tawaran pinjaman China untuk program pembangunan. Terutama kepada negara-negara yang sedang kesulitan keuangan.

Pence menuding pinjaman China bisa berubah menjadi utang yang amat memberatkan. Dia merayu para negara peserta supaya tetap berkawan dengan AS, dengan iming-iming tidak bakal terjerat utang, korupsi, atau malah menjadi negara budak. Dia mencibir program China dengan sebutan 'Sabuk Pas-pasan' dan 'Jalan Satu Arah'.

Dua negara adidaya itu berselisih terkait penggunaan bahasa menyangkut perdagangan dalam dokumen tersebut. Amerika Serikat disebut menolak keras sejumlah paragraf yang tercantum dalam dokumen itu yang meminta perombakan dalam tubuh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

China juga disebut marah akibat dokumen itu memuat paragraf yang mendesak perlawanan terhadap taktik perdagangan yang tidak adil.

Sementara itu, Presiden Donald Trump telah berulang kali menuding pemerintahan Presiden Xi Jinping melakukan pelanggaran hukum perdagangan internasional, dengan menerapkan kebijakan perdagangan yang proteksionis.
Salah satu sumber yang terlibat dalam negosiasi menuturkan China dan AS sangat mempermaslahkan penggunaan bahasa dalam dokumen tersebut. Sumber itu mengatakan tidak mungkin bagi negara anggota lainnya untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di antara keduanya.

"AS bertekad untuk memasukkan pesan yang terkait perdagangan dan WTO dalam komunike. Sementara China berkeras ingin menghapus pernyataan itu dari dokumen tersebut," kata sumber tersebut kepada ABC.

"Jadi negosiasi dokumen itu mandek dan pemimpin pertemuan (Papua Nugini) menyerah."

Sumber lain menuturkan Australia, Indonesia, dan Vietnam hanya bisa meminta China-AS untuk bisa menyelesaikan perbedaan. Namun, tetap tidak berhasil.

Pada Sabtu (17/11), sejumlah pejabat China bahkan disebut berusaha menerobos masuk ke dalam kantor Menteri Luar Negeri PNG, Rimbink Pato guna mengintervensi penulisan isi draf komunika. Namun, mereka berhasil dicegah. Meski demikian, delegasi China menyangkal kejadian itu.

"Personel polisi bahkan dikerahkan di luar Kementerian Luar Negeri PNG setelah mereka (pejabat China) berusaha menerobos masuk," ucap salah satu sumber kepada AFP.
Terlepas dari nihilnya kesimpulan yang dicapai, Perdana Menteri PNG Peter O'Neill menganggap pertemuan tinggi yang dihadiri 21 pemimpin negara anggota itu sukses.

O'Neill menyebut dalam para pemimpin berhasil menggelar diskusi yang bermanfaat dan saling bertukar pendapat dalam pertemuan itu. Namun, dia juga mengakui bahwa perbedaan pendapat antara "dua raksasa" membuat "seluruh dunia khawatir" terkait masa depan relasi anta-negara.

Selain masalah perdagangan, KTT APEC juga diwarnai rebutan pengaruh AS-China di kawasan Pasifik. AS dan sekutu baratnya menjanjikan pendanaan bersama bernilai US$1,7 miliar untuk proyek listrik dan internet di Papua Nugini.
Australia dan AS berniat menyulap Pulau Manus yang pernah disewa sebagai fasilitas penahanan imigrasi, menjadi pangkalan militer. China juga mendekati PNG dengan mengucurkan pinjaman untuk pembangunan, diduga dengan harapan supaya bisa menjadi batu loncatan untuk meluaskan pengaruh di kawasan Pasifik. (rds/ayp)