Berebut Pengaruh, Xi Jinping Perdana Datangi Filipina

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 20/11/2018 11:33 WIB
Berebut Pengaruh, Xi Jinping Perdana Datangi Filipina Presiden Xi Jinping untuk kali pertama berkunjung ke Filipina. Dalam 13 tahun terakhir, ia adalah Presiden China pertama yang datang ke negara Asia Tenggara tersebut. (REUTERS/Erik De Castro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden China, Xi Jinping, pada Selasa (20/11) pagi mendarat di Filipina untuk kunjungan perdananya ke negara Asia Tenggara tersebut.

Filipina sendiri merupakan sekutu lama AS dan saat ini menjadi negara yang diperebutkan Beijing dan Washington yang sedang berupaya menegakkan supremasi di kawasan Pasifik.

China mendapatkan mitra baru ketika pemilihan umum 2016 memunculkan Rodrigo Duterte sebagai presiden. Kebijakan Duterte memperkuat perdagangan dan hubungan investasi dengan China menggoyang ikatan satu abad Filipina-AS.


Manila mengatakan bahwa mereka berharap kunjungan selama dua hari tersebut --pertama kalinya presiden China datang dalam 13 tahun terakhir-- akan menghasilkan berbagai kesepakatan investasi infrastruktur yang dijanjikan China saat Duterte berkunjung dua tahun lalu.

Sejak 2013, China telah mengucurkan miliaran dolar dalam bentuk pinjaman dengan tujuan meningkatkan pengaruh politik mereka di dunia internasional, dan menantang hegemoni Amerika Serikat yang telah terbentuk pasca-perang dunia II, terutama di Asia.

Duterte secara antusias menyambut Xi Jinping dan di saat bersamaan mendeklarasikan Filipina tidak akan lagi tunduk pada Amerika Serikat. Duterte bahkan menyebut Presiden AS saat itu, Barack Obama, sebagai anak seorang pelacur.

Namun hubungan AS-Filipina kembali mesra sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden. Trump juga enggan melancarkan kritik pada kebijakan perang-narkoba Duterte yang menewaskan ribuan orang.

Perselisihan tentang sumber daya di Laut China Selatan, rute transit yang menjadi kunci bagi miliaran transaksi perdagangan, juga membuat hubungan Manila-Beijing memanas dan membuat Duterte semakin dekat dengan AS.

Duterte Terjebak?

Semula China berjanji untuk mengucurkan US$24 juta dalam bentuk pinjaman dan investasi, tapi hanya sebagian kecil yang terealisasi, sehingga para pengkritik menyebut Duterte tertipu.

Sementara itu, pihak lainnya mengingatkan soal "jebakan utang" sembari merujuk rekam jejak China dalam mengucurkan pinjaman pada negara-negara berkembang lainnya.

Pengamat Filipina Richard Heydarian mengatakan bahwa janji pinjaman dari China adalah upaya agar Manila melunak dalam isu Laut China Selatan, tapi China tak kunjung menepati bagian mereka.

"Kami tahu bahwa ada hitung-hitungan soal geopolitik," kata Heydarian pada AFP. "Apa tapi untungnya bagi China untuk terburu-buru, jika Duterte terus memberikan yang mereka inginkan?"

Gregory Wyatt, Direktur Inteligensi Bisnis di Konsultan Filipina PSA, mengatakan bahwa proyek-proyek besar menghadapi banyak rintangan di Filipina, seperti persetujuan, peraturam, dan kepentingan politik.

"Investasi asing memang ada, tapi pinjaman infrastruktur tidak," katanya.

Investasi China di Filipina meningkat lebih dari lima kali lipat dalam enam bulan pertama setelah tahun lalu ekspansi 67 persen, demikian ujar Menteri Luar Negeri China Wang Yi saat mengunjungi Manila, bulan lalu.

Perdagangan dua arah juga melampaui angka 10 persen dalam dua periode tersebut.

Pemodal dari China mengucurkan uang pada gim daring, properti, layanan jasa, dan membeli saham-saham di perusahaan Filipina, tapi tidak pada proyek infrastruktur berskala raksasa, ujar Wyatt.

Meski pemerintah mendukung kucuran uang untuk infrastruktur, "hal itu bukan berarti setiap birokrat, politikus lokal, dan publik secara umum memberikan dukungan," ujar Wyatt. (vws)