Kamboja Tolak Wacana China Bangun Pangkalan Militer

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 17:50 WIB
Kamboja Tolak Wacana China Bangun Pangkalan Militer Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, dan istri. (REUTERS/Samrang Pring)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kamboja menegaskan tidak akan mengizinkan adanya pembangunan pangkalan militer asing di wilayahnya. Pernyataan ini menepis kekhawatiran tentang kemungkinan China membangun pangkalan angkatan laut di wilayah Kamboja, padahal negara itu adalah salah satu debitur dari Negeri Tirai Bambu.

"Saya telah menerima surat dari Mike Pence, Wakil Presiden AS mengenai kekhawatiran akan ada pangkalan Angkatan Laut China di Kamboja. Konstitusi Kamboja melarang kehadiran pasukan asing atau pangkalan militer di wilayahnya, apakah angkatan laut atau angkatan udara," kata Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, seperti dilansir AFP, Senin (19/11).

Hun Sen juga menolak adanya laporan bahwa China mencoba memanipulasi kabar mereka akan membangun pangkalan militer di sana.
"Saya akan membalas surat dari Wakil Presiden AS, Mike Pence dan membuatnya mengerti dengan jelas mengenai masalah ini," kata dia.


"Kami menganggap semua negara sebagai teman."

Hal ini sempat memunculkan dugaan bahwa China sengaja menghabiskan waktu selama bertahun-tahun merundingkan aturan di Laut China Selatan supaya bisa membangun pangkalan militernya. Namun, Perdana Menteri China, Li Keqiang menepis dugaan itu dan mengatakan aturan mengenai Laut China Selatan yang disengketakan akan selesai dalam waktu tiga tahun.

"Kami tidak akan mencari hegemoni atau ekspansi. Itu adalah sesuatu yang tidak akan kami lakukan," kata dia.

China telah mengucurkan miliaran dolar dalam bentuk pinjaman, infrastrukur, dan investasi terhadap Kamboja. Bantuan ini membuat perekonomian Kamboja berkembang pesat dan dimanfaatkan untuk membenahi pemerintahannya.
Sebagai gantinya, Kamboja menjadi sekutu China yang setia. Hal ini telah melahirkan perpecahan di antara 10 negara ASEAN terhadap sikap agresif China di Laut China Selatan. Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Taiwan memiliki klaim yang bersaing dengan pulau-pulau dan perairan yang berpotensi kaya sumber daya.

China juga telah menetapkan posisi militer yang menjadi sengketa di Laut China Selatan dan mengintimidasi nelayan serta kapal angkatan laut dari negara-negara lain khususnya AS. Sebelumnya, kapal perang AS, Australia, dan Inggris melakukan manuver melewati wilayah itu dan membuat China marah. (cin/ayp)