Aparat Arab Saudi Dikabarkan Siksa Aktivis di Penjara

CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 10:26 WIB
Aparat Arab Saudi Dikabarkan Siksa Aktivis di Penjara Ilustrasi penganiayaan. (Istockphoto/lolostock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aparat keamanan Arab Saudi dikabarkan menyiksa sejumlah perempuan pegiat gerakan 'Hak Untuk Mengemudi' serta beberapa aktivis hak asasi manusia. Mereka dihajar dan mendapat pelecehan seksual dari petugas saat diinterogasi di dalam penjara, hingga mengalami cedera dan beberapa bahkan depresi.

Menurut laporan lembaga pemantau hak asasi manusia, Amnesty International yang dilansir CNNIndonesia.com, pada Rabu (21/11), para aktivis yang ditahan dan disiksa itu berjumlah sekitar 17 orang. Mereka terdiri dari 10 perempuan dan tujuh lelaki yang dibui sejak Mei lalu.

Para aktivis yang dikabarkan disiksa antara lain Loujain al-Hathloul, Iman al-Nafjan, Aziza al-Yousef, Samar Badawi, Nassima al-Sada, Mohammad al-Rabe'a, Dr Ibrahim al-Modeimigh, Nouf Abdulaziz, Maya'a al-Zahran, Mohammed al-Bajadi, Khalid al-Omeir, dan Hatoon al-Fassi.
Laporan Amnesty menyatakan seluruh pegiat itu ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Dhahban. Menurut Direktur Riset Timur Tengah Amnesty International, Lynn Maalouf, penyiksaan oleh aparat terjadi saat proses interogasi. Mereka mengalami hal itu selama berhari-hari.


Akibatnya sejumlah pegiat itu mengalami luka-luka, bahkan tidak sanggup berdiri dan tangannya terus gemetar. Malah, kata Lynn, ada beberapa orang aktivis yang berkali-kali hendak mencoba bunuh diri karena tekanan mental lantaran dihajar habis-habisan. Mereka tidak mengenal siapa penyiksanya lantaran para pelaku mengenakan penutup wajah.

"Pemerintah Saudi harus segera membebaskan para pegiat HAM tanpa syarat apapun, dan menggelar penyelidikan menyeluruh serta menyeret pelakunya ke meja hijau," kata Lynn.

Menurut Lynn, cara interogasi dengan menggunakan kekerasan oleh aparat Saudi diduga untuk menekan para aktivis supaya mengakui sangkaan terhadap mereka. Di sisi lain, hal itu sebagai pelajaran supaya mereka tidak lagi mengkritik kerajaan. Jika mereka mengakuinya, hal itu bisa menjadi bukti untuk menjatuhkan hukuman yang lebih keras, seperti hukuman mati.

Di sisi lain, aparat keamanan juga menekan para aktivis supaya tidak membicarakan penyiksaan itu kepada keluarga atau kerabat mereka.
Sejumlah aktivis itu ditahan pada Mei lalu, tanpa ada pemberitahuan kepada keluarga atau rekan-rekan mereka. Mereka mulanya dijebloskan selama tiga bulan di sel isolasi, kemudian dipindahkan untuk interogasi. Hingga berita ini dibuat belum ada pernyataan disampaikan pemerintah Saudi terkait laporan Amnesty itu. (ayp/ayp)