Pemimpin Garis Keras Pakistan Ditangkap Karena Menghasut

CNN Indonesia | Minggu, 25/11/2018 16:30 WIB
Pemimpin Garis Keras Pakistan Ditangkap Karena Menghasut Ilustrasi penjara. (Istockphoto/menonsstocks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Pakistan memutuskan menangkap pemimpin gerakan Tehreek-e-Labbaik (TLP), Khadim Hussain Rizvi karena menghasut supaya umat Islam setempat kembali menggelar unjuk rasa besar-besaran, menolak pembebasan mantan terpidana mati penista agama, Asia Bibi. Dia dibekuk saat bertandang ke Punjab untuk mengumpulkan dukungan.

"Khadim Hussain Rizvi sudah ditangkap oleh polisi dan diamankan ke sebuah rumah singgah," kata Menteri Informasi dan Penyiaran Pakistan, Fawad Chaudhry, seperti dilansir CNN, Minggu (25/11).

Menurut Chaudhry, Rizvi ditangkap pada Jumat malam waktu setempat. Dia beralasan Rizvi harus ditangkap karena mengabaikan anjuran pemerintah dan membahayakan masyarakat, serta dikhawatirkan unjuk rasanya merusak sejumlah properti yang tidak berkaitan dengan kasus Asia Bibi.


Kabarnya penangkapan itu atas perintah Perdana Menteri Imran Khan. Chaudhry menyatakan alasan mengapa Rizvi ditahan lantaran dia menghasut supaya memancing kerusuhan jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Unjuk rasa besar-besaran digelar oleh pendukung gerakan TLP yang dianggap garis keras sempat membuat suasana sejumlah kota besar di Pakistan, seperti Islamabad dan Lahore mencekam. Bahkan sampai menyebabkan masyarakat kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari. Mereka menolak keputusan pemerintah membebaskan Asia Bibi.

Bibi yang merupakan pemeluk Nasrani divonis mati pada 2010 lalu. Dia disebut menistakan agama Islam setelah terlibat adu mulut dengan tetangganya gara-gara minuman.

Selama delapan tahun dia mengajukan peninjauan kembali dan baru dikabulkan tahun ini. Selama itu dia tetap berada di penjara dengan alasan keamanan. Bahkan setelah dinyatakan bebas oleh Mahkamah Agung, dia tetap diminta berada di penjara karena sejumlah ancaman pembunuhan.
Kini Bibi disembunyikan di lokasi yang dirahasiakan di Pakistan. Sedangkan keluarganya dikabarkan ketakutan karena dipersekusi oleh kelompok garis keras. Mereka bahkan mencoba melacak keberadan mereka dengan cara dari rumah ke rumah. (ayp/ayp)