Warga Tunisia Kecam Kedatangan Putra Mahkota Saudi

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 04:31 WIB
Warga Tunisia Kecam Kedatangan Putra Mahkota Saudi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Tunisia memprotes rencana kedatangan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman ke negaranya. Protes itu dilancarkan sebagai buntut dari kasus pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi.

"Tidak untuk menodai Tunisia, negara revolusi!" Begitu bunyi tulisan dalam spanduk besar yang dibeberkan oleh National Union of Tunisian Journalist. Spanduk itu menggambarkan seorang pria berpakaian tradisional Arab Saudi tengah menenteng gergaji seraya berdiri membelakangi kamera.

Mereka juga mengangkat spanduk bertuliskan, 'Bin Salman, penjahat perang' dan 'anak algojo'.


Demonstrasi itu digelar oleh sekitar 100 warga dari perkumpulan wartawan, LSM, dan organisasi masyarakat sipil di pusat Kota Tunis, Senin (26/11).


Melansir AFP, dalam sebuah surat terbuka untuk Kepresidenan Tunisia, para demonstran mengecam rencana kunjungan Pangeran Salman. Kunjungan itu dinilai berbahaya bagi keamanan dan perdamaian dunia, sekaligus juga sebagai ancaman nyata kebebasan berekspresi.

Rencana kedatangan Pangeran Salman, ujar mereka, menjadi sebuah pelanggaran yang mencolok atas prinsip-prinsip revolusi Tunisia.

Rencana kunjungan Pangeran Salman ini memang menimbulkan banyak kecaman warga Tunisia. Selain kumpulan wartawan, protes lainnya juga bakal dilakukan oleh kumpulan mahasiswa Tunisia di Tunis dan Safax pada Selasa (27/11).


Sebagaimana diketahui, Arab Saudi tengah menghadapi kecaman global yang kuat atas pembunuhan Kashoggi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu. Kashoggi dilaporkan tewas dalam kondisi mengenaskan.

Kecaman global semakin menjadi setelah Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) menarik simpulan bahwa Pangeran Salman memerintahkan pembunuhan jurnalis pengkritik rezim Raja Salman tersebut.

Pangeran Salman dikabarkan bakal mengunjungi beberapa negara di Afrika Utara pada Selasa (27/11) sebagai bagian dari tur regionalnya. (asr)