Rusia Akan Kerahkan Sistem Pertahanan Rudal di Krimea

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 19:25 WIB
Rusia Akan Kerahkan Sistem Pertahanan Rudal di Krimea Ilustrasi sistem pertahanan rudal S-400. (UMNICK via WIkimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia dilaporkan akan mengerahkan sistem pertahanan rudal S-400 di Krimea, wilayah yang dicaplok Moskow empat tahun lalu dari Ukraina.

"Dalam waktu dekat, sistem pertahanan udara anti-pesawat yang baru akan dikerahkan demi melindungi wilayah udara Federasi Rusia," ucap seorang pejabat militer dari distrik selatan Rusia, Kolonel Vadim Astafiyev, kepada kantor berita Interfax.

Seperti dilansir AFP, Rabu (28/11), Astafiyev, mengatakan sistem S-400 itu telah lulus uji coba dan siap untuk dikerahkan.
Sementara itu, kantor berita RIA Novosti melaporkan sistem rudal itu akan dikerahkan sekitar akhir 2018, setelah tiga sistem S-400 lain ditempatkan di wilayah itu.


September lalu, sejumlah informan dari dinas keamanan Rusia mengatakan sistem S-400 keempat akan dikerahkan di Dzhankoy, sebuah kota di Krimea yang berdekatan dengan perbatasan Ukraina.

S-400 merupakan sistem pertahanan anti-pesawat sekaligus sistem rudal terbaru serta tercanggih milik Rusia.
Pengerahan sistem rudal ini diumumkan ketika hubungan Moskow dan Kiev kembali tegang setelah angkatan laut kedua negara terlibat konfrontasi di Selat Kerch, Laut Hitam, pada Minggu (25/11).

Kapal penjaga pantai Rusia sempat melepaskan tembakan ke arah kapal militer Ukraina hingga melukai sejumlah pelaut. Kremlin mendasari manuvernya itu lantaran kapal Ukraina disebut berkeras melintasi perairan itu dan mengabaikan peringatan.

Namun, menurut Ukraina, Rusia menembaki kapal-kapalnya setelah mereka memutuskan untuk memutar balik keluar dari perairan itu.
Akibat kejadian itu, Presiden Ukraina Petro Poroshenko menetapkan status darurat militer selama 30 hari. Dia menganggap manuver Kremlin di Laut Hitam sebagai bentuk agresi baru terhadap negaranya.

Poroshenko bahkan menganggap negaranya kemungkinan terlibat perang terbuka lantaran agresi yang dilakukan Rusia.

"Negara ini dalam ancaman akan terlibat perang terbuka dengan Rusia," kata Petro, seperti dilansir CNN, Rabu (28/11).
Poroshenko menyatakan jumlah pasukan Rusia di perbatasan meningkat tiga kali lipat, termasuk pengerahan kendaraan lapis baja.

Poroshenko juga sudah menghubungi Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, berharap dapat dibantu dari sisi militer.

"Kami juga akan membatasi gerak-gerik orang Rusia di perbatasan untuk keluar masuk Ukraina," ujar Poroshenko. (rds/has)