Rusuh Demo Rompi Kuning, Macron Tunda Kunjungan ke Serbia

CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 09:45 WIB
Rusuh Demo Rompi Kuning, Macron Tunda Kunjungan ke Serbia Emmanuel Macron menunda kunjungan ke Serbia di tengah krisis Perancis usai kerusuhan pecah ketika gerakan rompi kuning menggelar demonstrasi akhir pekan lalu. (Thibault Camus/Pool via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Emmanuel Macron menunda kunjungannya ke Serbia di tengah krisis Perancis setelah kerusuhan pecah ketika gerakan rompi kuning menggelar demonstrasi besar-besaran akhir pekan lalu.

"Presiden Macron meminta untuk menunda kunjungan ke Seriba selama beberapa pekan karena situasi di negaranya," ujar Presiden Serbia, Aleksandar Vucic, sebagaimana dikutip Reuters, Senin (3/12).

Tak lama setelah itu, kantor Macron juga merilis pernyataan yang mengonfirmasi bahwa lawatan sang presiden harus ditunda karena "insiden yang terjadi dalam aksi protes terakhir."
Aksi protes kenaikan bahan bakar dan peningkatan biaya hidup ini sudah dimulai sejak 17 November dan dengan cepat menyebar berkat media sosial.


Para demonstran rompi kuning memblokir jalan di seluruh Perancis dan menghalangi akses ke pusat perbelanjaan, pabrik, juga beberapa tempat pengisian bahan bakar.

Demonstrasi ini berakhir ricuh pada Sabtu lalu, dengan pengunjuk rasa membakar mobil dan menjarah toko di berbagai penjuru di Paris.
Macron pun menggelar rapat darurat dengan jajaran kabinetnya dan membuka kemungkinan pertemuan dengan perwakilan demonstran, salah satu tuntutan yang selama ini tak pernah dipenuhi.

Di tengah kekacauan ini, Macron dijadwalkan tiba di Serbia pada Rabu untuk mengawali kunjungan selama dua hari guna memperkuat relasi dengan Belgrade.

Relasi kedua negara sempat tegang setelah Vucic protes atas pengaturan tempat duduk dalam upacara peringatan Perang Dunia I di Paris bulan lalu.

[Gambas:Video CNN]

Saat itu, Vucic diberikan tempat duduk di luar arena Arc de Triomphe, terpisah dari pemimpin dunia lainnya, seperti Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Duta Besar Perancis untuk Serbia pun merilis pernyataan "penyesalan mendalam" atas "salah langkah" yang dilakukan negaranya. (has/has)