Netanyahu Ajak Negara Lain Jatuhkan Sanksi untuk Hizbullah

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 13:28 WIB
Netanyahu Ajak Negara Lain Jatuhkan Sanksi untuk Hizbullah Benjamin Netanyahu mengajak negara lain menjatuhkan sanksi bagi Hizbullah menyusul temuan terowongan yang diduga dibuat kelompok itu untuk menyusup ke Israel. (AFP Photo/Dan Balilty)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengajak negara-negara asing menjatuhkan sanksi bagi Hizbullah menyusul temuan terowongan yang diduga dibuat kelompok tersebut untuk menyusup ke Israel.

Permintaan itu diutarakan Netanyahu saat membawa sekelompok duta besar di Tel Aviv ke lokasi perbatasan Israel dengan Libanon guna menunjukkan lokasi temuan terowongan tersebut.

"Saya mengatakan kepada para duta besar bahwa mereka harus ikut mengecam agresi yang dilakukan oleh Iran, Hizbullah, dan Hamas dengan tegas, dan tentu saja untuk memperkuat sanksi bagi mereka," kata Netanyahu melalui pernyataan yang dikutip AFP, Kamis (7/12).
Kantor Netanyahu juga menyatakan bahwa sang perdana menteri sudah menelepon Sekretaris Jenderal Antonio Guterres dan menuntut PBB untuk ikut mengecam "pelanggaran terhadap kedaulatan Israel" tersebut.


Israel menganggap Hizbullah selama ini didukung Iran, musuh bebuyutannya, sama seperti aktivitas Hamas di Jalur Gaza.

"Siapa pun yang menyerang kita (Israel) akan merasakan pertumpahan darah di kepala mereka sendiri. Hizbullah tahu itu, Hamas juga tahu itu," kata Netanyahu.

Pada Selasa (4/12), Israel mengumumkan bahwa militer menemukan sebuah terowongan Hizbullah di Kfar Kila, perbatasan Libanon selatan dengan Israel. Terowongan itu diduga dibangun Hizbullah untuk menyusup ke Israel. 
Militer Israel mengklaim telah melancarkan operasi untuk menghancurkan terowongan tersebut. Pemerintahan Netanyahu juga menuntut PBB untuk mengerahkan operasi di perbatasan bersama Libanon untuk menghancurkan terowongan tersebut.

Sementara itu, pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) juga sudah mengonfirmasi keberadaan terowongan itu.

"UNIFIL telah mengunjungi lokasi dekat Metula di utara Israel dan membenarkan keberadaan terowongan di lokasi itu," demikian bunyi pernyataan UNIFIL.

"UNIFIL saat ini tengah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk merumuskan tindak lanjut. Sangat penting untuk memahami gambaran lengkap atas peristiwa serius ini." (rds/has)