AS Gertak Turki soal Serangan ke Kurdi di Suriah

CNN Indonesia | Kamis, 13/12/2018 19:52 WIB
AS Gertak Turki soal Serangan ke Kurdi di Suriah Ilustrasi personel YPG. (Reuters/Rodi Said)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pertahanan Amerika Serikat menyatakan setiap serangan militer di wilayah di utara Suriah tidak bisa diterima, Kamis (13/12), setelah Turki melancarkan serangan ke pasukan Kurdi di wilayah itu.

"Aksi militer secara unilateral ke arah timur laut Suriah-terutama karena personel AS mungkin berada di sekitarnya-oleh pihak mana pun akan menjadi keprihatinan serius," ucap juru bicara Pentagon, Komandan Sean Robertson, melalui sebuah pernyataan, Kamis (13/12).

"Kami akan menganggap tindakan militer seperti itu sebagai sebuah aksi yang tidak dapat diterima."
Washington melansir pernyataan ini setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan yang mengatakan bahwa Turki akan memulai "operasi" di wilayah yang dikuasai pasukan Kurdi di utara Suriah dalam beberapa hari ke depan.


Erdogan menjabarkan bahwa operasi itu menargetkan pasukan Unit Pelindung Orang Kurdi (YPG), sayap militer kelompok Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Selama ini, AS berkoalisi dengan YPG di bawah aliansi yang dipimpin oleh Pasukan Demokrat Suriah (SDF). Koalisi tersebut memainkan peran kunci dalam memberangus kelompok ISIS di Suriah dan Irak.

"Koordinasi dan konsultasi antara AS dan Turki adalah satu-satunya pendekatan yang bisa membantu mengatasi masalah-masalah keamanan di kawasan ini," ucap Robertson seperti dikutip AFP.

"Kami berkomitmen untuk bekerja sama dan baru-baru ini kami juga telah mengadakan kelompok kerja tingkat tinggi di Suriah dengan Turki untuk memperkuat kerja sama dan koordinasi."
Pentagon telah berulang kali memperingatkan Ankara bahwa pertempuran antara Turki dengan SDF hanya akan menganggu misi utama di Suriah selama ini, yakni memberangus ISIS.

"Kita tidak boleh dan tidak dapat membiarkan ISIS bernapas dalam situasi krisis ini atau kita akan mengancam kemajuan signifikan yang telah kita raih bersama yang berisiko memungkinkan ISIS bangkit kembali," ucap Robertson.

Serupa dengan AS, YPG melalui juru bicaranya, Nuri Mahmud, menganggap serangan Turki terhadap kelompoknya hanya akan menghambat operasi militer koalisi penggempur ISIS.

"Ancaman (Turki) bertepatan dengan progres pasukan kami melawan teroris di gerbang Kota Hajin," ucap Mahmud.

"Tidak diragukan lagi, setiap serangan ke utara Suriah akan memiliki dampak langsung pada pertempuran koalisi melawan ISIS di Hajin. Pasukan yang berperang di sana akan kembali dan memperjuangkan wilayah serta keluarga mereka." (rds/has)