Dua Bulan Diculik Abu Sayyaf, ABK WNI Kembali ke Keluarga

CNN Indonesia | Jumat, 14/12/2018 13:29 WIB
Dua Bulan Diculik Abu Sayyaf, ABK WNI Kembali ke Keluarga Usman Yunus, seorang anak buah kapal asal Sulawesi Barat, akhirnya bertemu kembali dengan keluarganya setelah disandera Abu Sayyaf di Filipina selama dua bulan. (Dok. Kemlu RI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Usman Yunus, seorang anak buah kapal asal Sulawesi Barat, akhirnya bertemu kembali dengan anak dan istrinya di Jakarta pada Kamis (13/12), setelah menjadi sandera Abu Sayyaf di Filipina selama dua bulan.

"Terima kasih Bapak Presiden dan Bu Menlu, saya hampir putus asa. Alhamdulillah, suami saya bebas," ujar istri Usman, Julianti, kepada Wakil Menteri Luar Negeri RI, A.M. Fachir saat dipertemukan dengan Usman.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan Usman diterbangkan ke Jakarta didampingi langsung oleh Duta Besar RI untuk Manila, Sonny Sarundajang.
"Pemerintah menggunakan seluruh asetnya dalam rangka membebaskan para sandera. Tapi situasi di Filipina Selatan akibat darurat militer, membuat upaya harus dilakukan secara sangat hati-hati guna memastikan keselamatan sandera," kata Fachir, saat menerima kedatangan Usman di Kemlu RI.


Melalui keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Kemlu RI menyatakan Yunus berhasil dibebaskan pada 7 Desember lalu setelah diculik Abu Sayyaf pada 11 September bersama seorang rekannya di dekat Pulau Gaya, Samporna, Sabah.

Seusai bebas, Yunis menjalani proses pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Angkatan Bersenjata di Jolo, Sulu, Filipina Selatan, sebelum diserahkan kepada perwakilan kedutaan besar RI.
Usman juga dibawa ke Manila terlebih dahulu untuk menyelesaikan administrasi keimigrasian sebelum bisa dipulangkan ke Indonesia.

Berdasarkan data Kemlu RI, sebanyak 34 WNI disandera di Filipina Selatan sejak 2016 hingga November 2018. Sebanyak 33 WNI yang disandera sudah berhasil dibebaskan.

Saat ini, tersisa satu rekan Usman yang masih menjadi sandera Abu Sayyaf. Kemlu RI menyatakan pemerintah akan terus mengupayakan pembebasan WNI yang masih disandera.

Kementerian tersebut menyatakan di saat yang sama, KJRI Kota Kinabalu dan KJRI Tawau terus mengimbau agar WNI yang bekerja sebagai nelayan di wilayah Sabah untuk tidak melaut hingga ada jaminan keamanan dari otoritas Malaysia. (rds/has)