Ketua Partai Mundur, Najib Diminta Pimpin UMNO Lagi

CNN Indonesia | Rabu, 19/12/2018 15:17 WIB
Ketua Partai Mundur, Najib Diminta Pimpin UMNO Lagi Mantan PM Malaysia, Najib Razak, diminta untuk kembali memimpin UMNO setelah ketua partai tersebut, Ahmad Zahid Hamidi, mengundurkan diri pada Selasa (18/12). (Reuters/Lai Seng Sin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, diminta untuk kembali memimpin UMNO setelah ketua partai tersebut, Ahmad Zahid Hamidi, mengundurkan diri pada Selasa (18/12).

Permintaan ini disuarakan oleh anggota senior Dewan Tertinggi UMNO, Lokman Noor Adam, melalui sebuah pernyataan pada Rabu (19/12).

Dalam pernyataan tersebut, Lokman menyuarakan kekecewaannya atas keputusan Ahmad yang membuat partainya kian terpuruk di bawah kemenangan kubu pemerintah pimpinan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.
Menurut Lokman, di tengah situasi kritis ini, UMNO membutuhkan pemimpin yang dihormati oleh para anggota parlemen dari koalisi kubu oposisi, Barisan Nasional (BN).


"Berdasarkan hal tersebut, sebagai anggota Dewan Tertinggi UMNO, saya menyarankan agar presiden UMNO menunjuk Najib sebagai pemimpin defacto UMNO juga pemimpin oposisi selagi posisi presiden UMNO masih kosong," tulis Lokman seperti dikutip The Straits Times.

Pernyataan ini dirilis tak lama setelah Ahmad memutuskan untuk mundur di tengah tekanan karena banyak anggota dewan perwakilan dan anggota partai keluar dari UMNO.
Gelombang hengkang ini mengalir saat Ahmad dibayangi 46 tuduhan kriminal, termasuk penerimaan suap dan pencucian uang yang melibatkan jutaan ringgit.

Ahmad sendiri naik takhta setelah Najib mundur dari jabatannya sebagai ketua partai setelah kalah dalam pemilu pada pertengahan tahun ini.

Pemilu tersebut dianggap sebagai tonggak sejarah bagi Malaysia karena untuk pertama kalinya koalisi BN dikalahkan oposisi sejak negara tersebut merdeka enam dekade silam.
Popularitas Najib terus merosot di tengah isu skandal korupsi lembaga investasi negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Keseluruhan kasus ini pertama kali menjadi perhatian publik setelah pada 2015, Wall Street Journal melaporkan aliran dana sebesar US$700 juta dari 1MDB ke rekening pribadi Najib.

Sejauh ini, Najib telah dijerat setidaknya 40 dakwaan, termasuk pencucian uang dan penyalahgunaan kekuasaan dalam skandal 1MDB. (has/has)