Tarik Pasukan AS dari Suriah, Donald Trump Panen Kritik

CNN Indonesia | Kamis, 20/12/2018 15:16 WIB
Tarik Pasukan AS dari Suriah, Donald Trump Panen Kritik Keputusan Presiden Donald Trump untuk menarik 2000 pasukan di Suriah dianggap bentuk 'kekalahan' dan memuluskan Rusia dan Iran menancapkan pengaruh di Timur Tengah. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah kalangan di Amerika Serikat mengaku kecewa dengan keputusan Presiden Donald Trump yang bakal menarik 2000 pasukan di Suriah. Hal itu dianggap sebagai bentuk 'kekalahan' dan memuluskan jalan Rusia serta Iran untuk menancapkan pengaruh di Timur Tengah.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (20/12), kritik disampaikan oleh sejumlah kalangan di Kementerian Pertahanan AS. Mereka merasa keputusan Trump justru menguntungkan Rusia dan Iran.

Sumber di Kementerian Pertahanan AS menyatakan khawatir Suriah bakal menjadi ancaman sekutu mereka di Timur Tengah, Israel. Sebab, Iran yang menjadi musuh mereka bisa menggunakan Suriah sebagai basis untuk menyerang Negara Zionis.


"Secara geopolitik itu menguntungkan Rusia, sedangkan di kawasan menguntungkan Iran," kata sumber itu.
Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jack Keane juga mengkritik keputusan Trump. Menurut dia hal itu juga bisa membuat kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bangkit lagi.

Menurut Keane, yang merupakan kandidat pengganti Menteri Pertahanan James Mattis, hal itu akan membuat AS tidak punya daya tawar dalam perundingan damai di Suriah, jika terjadi kelak.

"Meski markas ISIS di Suriah sudah hancur, tetapi kami akan kalah dalam hal perdamaian karena penarikan pasukan ini. ISIS akan bangkit lagi, Iran menjadi ancaman yang terus berkembang dan menguasai Suriah, lalu Israel akan terancam bahaya," kata Keane dalam cuitan melalui akun Twitternya.

Analis Institut Timur Tengah, Charles Lister menyatakan juga setuju dengan pemikiran Keane. Menurut dia keputusan Trump membuat posisi mereka semakin sulit di Suriah.
"Tapi yang terutama akan berpengaruh terhadap kebijakan dalam menghadapi Iran. Sebab Suriah adalah kunci dari strategi kawasan Iran," kata Keane.

Meski demikian, seluruh pendapat itu disangkal oleh pemerintah Trump. Menurut sumber di kalangan pejabat keamanan AS, tugas pasukan mereka di Suriah hanya untuk menghadapi ISIS, bukan Iran.

"Menurut saya presiden (Trump) sudah tepat saat menyatakan misi itu sudah sampai pada tahap akhir," kata sumber itu.

Pasukan AS selama ini disebut hanya ditugaskan memerangi ISIS dan melatih pasukan pemberontak Suriah, SDF. Mayoritas pasukan AS itu ditempatkan di Suriah bagian utara. Ada juga sebagian kecil yang diplot di garnisun yang berada di Al-Tanaf, dekat perbatasan Yordania dan Irak.

Bahkan keputusan Trump ini membuat partainya, Partai Republik bingung. Mereka menumpahkan kekecewaan soal Trump langsung kepada Wakil Presiden Mike Pence.
Perang sipil di Suriah yang berlangsung sejak 2011 sudah menelan korban jiwa ratusan ribu orang. Sekitar 11 juta penduduk juga terpaksa mengungsi ke sejumlah negara di dunia. (ayp/ayp)