Menhan AS Mundur Usai Trump Tarik Pasukan dari Suriah

CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 07:56 WIB
Menhan AS Mundur Usai Trump Tarik Pasukan dari Suriah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James 'Jim' Norman Mattis memilih mundur usai Presiden Donald Trump memutuskan menarik seluruh pasukan AS dari Suriah. (Reuters/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James 'Jim' Norman Mattis menyatakan mengundurkan diri dari kabinet pada Kamis (20/12) kemarin. Dia tidak secara terbuka menyatakan alasan mundur, tetapi nampaknya tidak sepakat dengan keputusan Presiden Donald Trump yang menarik seluruh pasukan mereka dari Suriah.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (21/12), Mattis menyampaikan pengunduran diri kepada Trump melalui sebuah surat. Dia menyatakan bersilang pendapat dengan Trump yang dianggap tidak setia terhadap negara-negara sekutu dan malah terlihat semakin merapat kepada Rusia.

"Pandangan saya adalah seharusnya memperlakukan negara-negara sekutu dengan hormat, dan juga saya memahami pelaku dan taktik pesaing karena sudah berkecimpung selama empat dasawarsa dalam hal ini," kata Mattis.
"Karena Anda (Trump) berhak untuk mempunyai menteri pertahanan yang sejalan dengan pandangan Anda dan juga hal-hal lainnya, rasanya ini saat yang tepat untuk saya mengundurkan diri," ujar mantan komandan korps Marinir AS itu.


Kabar pengunduran diri Mattis terlebih dulu disampaikan oleh Trump melalui cuitan di Twitter. Beberapa saat kemudian giliran Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) merilis surat pengunduran diri Mattis. Dia menyatakan Mattis baru benar-benar meninggalkan jabatannya pada Februari 2019.

"Jenderal Mattis sangat membantu saya untuk mendapatkan sekutu dan sejumlah negara supaya mendapat bantuan militer. Menteri Pertahanan baru akan segera saya umumkan. Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk Jim atas dedikasinya," tulis Trump.

Sejumlah kalangan di Amerika Serikat mengaku kecewa dengan keputusan Presiden Donald Trump yang bakal menarik 2000 pasukan di Suriah. Pasukan AS selama ini disebut hanya ditugaskan memerangi ISIS dan melatih pasukan pemberontak Suriah, SDF. Mayoritas pasukan AS itu ditempatkan di Suriah bagian utara. Ada juga sebagian kecil yang diplot di garnisun yang berada di Al-Tanaf, dekat perbatasan Yordania dan Irak.
Kalangan politikus juga menyatakan bingung dengan jalan pikir Trump. Apalagi selama ini Mattis dikenal sebagai sosok yang mampu mengimbangi Trump, karena memegang kendali bidang pertahanan.

"Mattis selama ini adalah menteri yang menjadi jangkar saat pemerintahan Trump terlihat sangat kacau," kata Senator dari Partai Demokrat, Mark Warner.

Sedangkan Senator Marco Rubio menganggap pengunduran diri Mattis memperlihatkan kebijakan yang dibuat Trump seolah seperti menggali kubur sendiri bagi AS. Sebab hal itu membahayakan mereka dan merusak persahabatan dengan para sekutu.

Ada sejumlah kandidat yang digadang-gadang mengisi posisi yang ditinggalkan Mattis. Mereka adalah mantan jenderal Angkatan Darat AS, Senator Tom Cotton, dan bekas Wakil Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jack Keane.

Kemungkinan besar keputusan penarikan pasukan di Suriah menjadi titik puncak silang pendapat antara Mattis dan Trump. Keduanya sempat berbeda sikap ketika Trump memutuskan membatalkan perjanjian nuklir dengan Iran.
Trump juga memaksa supaya Angkatan Bersenjata AS membentuk satuan Pasukan Antariksa, yang mana ditentang Mattis.

Tonton juga video: Pecah Kongsi Dengan Trump, Menhan AS Mundur
[Gambas:Video CNN] (ayp/ayp)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA