China Larang 80 Jurnal Akademik Terbitan Inggris

CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 00:44 WIB
China Larang 80 Jurnal Akademik Terbitan Inggris Ilustrasi jurnal akademik. (Caio Resende/Pexels)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penerbit asal Inggris, Taylor and Francis Group menarik 80 jurnal dari China atas permintaan otoritas setempat.

Dikutip dari Reuters, hal ini diungkapkan oleh The Asian Studies Association of Australia pada Kamis (20/12) silam. Jurnalnya yang berjudul Asian Studies Review, baru saja dilarang di China karena memiliki konten yang dianggap kurang pantas.

Ini merupakan karya ilmiah terbaru yang dilarang oleh China sejak pemerintah membatasi publikasi asing masuk ke negara tirai bambu itu. Adapun, publikasi yang masuk ke China sebelumnya harus mendapatkan verifikasi legal dari pemerintah.


Importir asal China yang mendatangkan publikasi tersebut sudah menginformasikan Taylor and Francis untuk menghapus jurnal tersebut dari daftar paket publikasi yang sedianya akan dikirim ke perpustakaan.


Ini lantaran pemerintah China mempertanyakan objektivitas enam artikel di dalamnya. Hanya saja, The Asian Studies Association of Australia enggan merinci artikel tersebut karena dianggap sensitif secara komersial.

"Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah China berinisiatif melakukan sensor atas publikasi akademis, yang tentu juga melibatkan para penerbit," jelas asosiasi dikutip dari keterangan resmi.

Hanya saja, Taylor dan Francis menyebut bahwa mereka tidak berpartisipasi dalam proses sensor yang dimaksud, begitu pun dengan proses sensor di negara lainnya. Kendati begitu, penerbit mengakui, sebanyak 83 jurnal telah dihapus dari paket jurnal segmen seni, humaniora, dan ilmu sosial sejak September silam, yang sedianya akan dikirimkan ke perpustakaan seluruh China.

"Menurut kami, semua orang seharusnya bisa membaca penelitian yang telah kami terbitkan menggunakan akses yang mereka miliki," jelas Taylor and Francis.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri China dan Sekretariat Konsil Republik Rakyat China tidak merespons tanggapan yang dikirimkan melalui faks.


Upaya sensor dari pemerintah China mengemuka pada Agustus 2017 silam ketika penerbit Inggris lainnya, Cambridge University Press (CUP) menghapus akses daring terhadap ratusan artikel akademis di China. Hal ini dilakukan setelah penerbit mendapat tekanan dari otoritas setempat. Namun, CUP membatalkan hal tersebut, dan akses kepada artikel kemudian dibuka lagi dalam beberapa hari.

Sensor di bawah kendali Presiden Xi Jinping dianggap semakin ketat. Di samping itu, Partai Komunis China juga dianggap memaksakan prinsip dan sudut pandangnya di bidang kemasyarakatan, sejarah, dan politik ke dalam dunia pendidikan.

"Sepertinya sensor yang dilakukan China cukup terealisasi sehingga mereka tidak perlu untuk melakukan sensor atas pihaknya sendiri," jelas Nicholas Loubere, ahli China dari Universitas Lund di Swedia pada Minggu (23/12) waktu setempat.

Padahal menurut dia, pemerintah China bisa saja membatalkan langganan jurnal. "Dan biarkan saja restriksi itu dilakukan dengan cara langganan berbayar," imbuhnya. (glh/agi)