Ustaz Malaysia Sindir Soal Seventeen dan Tsunami Selat Sunda

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 18:17 WIB
Ustaz Malaysia Sindir Soal Seventeen dan Tsunami Selat Sunda Ustaz dan pengurus partai Malaysia, Ahmad Dusuki Abdul Rani menyindir soal band Seventeen yang menjadi korban tsunami Selat Sunda. (Detikcom/Muhammad Ridho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pemuka agama sekaligus pengurus Partai Islam se-Malaysia (PAS) mengunggah rekaman detik-detik ketika grup musik Seventeen tersapu gelombang tsunami saat pentas di Kabupaten Pandeglang, Banten melalui media sosial Instagram. Dia menuliskan pernyataan yang dianggap warganet menyudutkan band itu, hingga mengundang tanggapan negatif dari warga Negeri Jiran.

Seperti dilansir Malay Mail, Jumat (28/12), unggahan soal Seventeen itu dilakukan oleh Wakil Kepala Ulama PAS Negara Bagian Selangor, Ustaz Ahmad Dusuki Abdul Rani. Dia turut menyinggung soal kematian yang bisa datang kapanpun dan mengajak siapapun menjauhi perbuatan maksiat.
[Gambas:Instagram]
Di bawah pernyataan, Ahmad turut memajang tiga nomor rekening bank untuk menampung sumbangan buat pembangunan masjid di Palu, Sulawesi Tengah selepas bencana gempa dan tsunami.

Unggahan Ahmad sudah disimak 41 ribu kali dan dikomentari lebih dari seribu pengguna Instagram. Kebanyakan mereka mengecam unggahan Ahmad dan mempertanyakan tujuannya melakukan hal itu apakah buat berdakwah atau menghasut kebencian.
"Kelihatannya Anda tidak bisa menahan diri. Orang itu (Irfan, Vokalis Seventeen) kehilangan istri serta teman-temannya, ratusan orang meninggal. Anda malah terlalu sibuk mengejar popularitas sembari mempromosikan ceramah berbayar. Apakah ini yang Anda maksudkan untuk mengikuti jalan Nabi?," tulis akun @johnlemmonn.


Akun @opiyusof juga menanggapi unggahan Ahmad. Dia malah melontarkan pertanyaan bernada sarkas.

"Ustaz, apakah saya dan rekan-rekan di band termasuk penghuni neraka? Kalau saya menyumbang kepada Anda, apakah kami bisa langsung masuk surga tanpa harus melalui Hari Penghitungan?," tulis akun @opiyusof.

Pengguna Instagram lainnya menyatakan tidak ada bedanya jika yang berada di panggung ketika bencana terjadi adalah grup band atau kelompok nasyid. Kalau bencana terjadi mereka akan tetap tersapu tsunami.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan korban tewas akibat tsunami di Selat Sunda mencapai 426 jiwa. Sedangkan korban luka mencapai 7.202 orang.

Sementara jumlah pengungsi akibat bencana tsunami mencapai 40.386, dan korban hilang 23 orang.

Riefian 'Ifan' Fajarsyah menjadi satu-satunya anggota Seventeen yang selamat dalam bencana tsunami di Selat Sunda. Personel lainnya, yaitu penabuh drum Windu Andi Darmawan, gitaris Herman Sikumbang dan pemetik bas M. Awal Purbani meninggal dalam kejadian itu.

Istri Ifan, Dylan Sahara juga turut menjadi korban meninggal dalam kejadian itu.
Seventeen dibentuk di Yogyakarta pada 1999. Mereka sudah punya enam album sebelum tergulung tsunami Selat Sunda, yakni Bintang Terpilih (1999), Sweet Seventeen (2005), Lelaki Hebat (2008), Dunia yang Indah (2011), 5ang Juara (2013), dan Pantang Mundur (2016). (ayp/ayp)