Kim Jong-un Ingin Lebih Sering Bertemu Moon pada 2019

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 12:06 WIB
Kim Jong-un Ingin Lebih Sering Bertemu Moon pada 2019 Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un berjanji ingin bertemu Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in lebih sering guna membahas denuklirisasi. (Pyeongyang Press Corps/Pool via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Tertinggi Korea UtaraKim Jong-un berjanji ingin bertemu Presiden Korea SelatanMoon Jae-in lebih sering lagi tahun depan guna membahas proses denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Menurut Istana Kepresidenan Korsel, Cheongwadae, ungkapan itu diutarakan Kim Jong-un melalui sepucuk surat kepada Moon yang dikirimkan sebagai bentuk ucapan menjelang tahun baru.

"Pemimpin Tertinggi Korut mengungkapkan keinginan yang kuat untuk mengunjungi Seoul sembari melihat situasi di kawasan," ucap juru bicara Moon, Kim Eui-kyeom kepada wartawan di Seoul pada Senin (31/12).
"Pemimpin Kim Jong-un juga mengungkapkan niatnya untuk bertemu dengan Moon lebih sering lagi pada 2019 untuk mencapai perdamaian dan menyelesaikan isu denuklirisasi di Semenanjung Korea bersama-sama."


Kim Jong-un telah bertemu dengan Moon sebanyak tiga kali sepanjang 2018, menyusul perbaikan hubungan Korut-Korsel.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Inter-Korea terakhir pada September lalu di Pyeongyang, Kim Jong-un berjanji akan mengunjungi Seoul untuk membalas undangan Moon dalam waktu dekat.

Menurut Seoul, dalam suratnya, Kim Jong-un mengaku merasa sangat menyesal karena lawatan yang dinanti-nanti itu belum bisa terwujud.
Menyambut surat yang langka itu, Moon mengatakan Kim Jong-un juga menyatakan akan lebih aktif mengimplementasikan kesepakatan, yang telah disetujui dalam KTT sebelumnya dengan Korsel dan Amerika Serikat.

"Saya menyambut niat Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un untuk menyelesaikan bersama masalah denuklirisasi dengan lebih sering bertemu tahun depan," kata Moon melalui pernyataan seperti dikutip AFP.

Meski hubungan Korsel dan Korut membaik dalam setahun terakhir, kedua negara secara teknis masih berperang. Sebab Perang Korea 1950-1953 lalu diakhiri hanya dengan kesepakatan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Meski begitu, kedua negara sepakat mengurangi personel dan aktivitas militer lainnya di perbatasan sebagai isyarat rekonsiliasi. Sejak KTT Inter-Korea yang pertama pada April lalu, hubungan antar perbatasan kedua negara juga terus meningkat.
Baru-baru ini, Korut dan Korsel juga telah meresmikan proyek penghubungan jalan dan rel kereta api antar-kedua negara. (rds/ayp)