Khawatir Dibunuh, Perempuan Saudi Mengurung Diri di Thailand

CNN Indonesia | Senin, 07/01/2019 15:16 WIB
Khawatir Dibunuh, Perempuan Saudi Mengurung Diri di Thailand Ilustrasi pencari suaka. (REUTERS/Mohammed Salem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang perempuan asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, ditahan di Thailand ketika berencana lari ke Australia untuk meminta suaka. Dia memilih mengurung diri di hotel dekat bandara ketika ditahan oleh imigrasi Negeri Gajah Putih, saat singgah di Bangkok pada Minggu (6/1) pekan lalu.

Qunun enggan kembali ke negaranya dengan alasan takut dibunuh keluarga atau aparat kerajaan. Imigrasi Thailand menahan Qunun supaya tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Australia karena dianggap minim kelengkapan dokumen, seperti tiket pulang dan uang simpanan.

Melalui Twitternya, perempuan 18 tahun itu bahkan mengatakan imigrasi Thailand akan mendeportasinya hari ini, Senin (7/1), dengan penerbangan sekitar pukul 11.15 waktu setempat.
Karena khawatir akan dibunuh jika dideportasi, Qunun meminta imigrasi Thailand untuk memulai proses permintaan suakanya.


"Saya meminta pemerintah Thailand untuk menghentikan proses deportasi saya ke Kuwait. Saya meminta polisi Thailand mulai memproses permintaan suaka saya," ucap Qunun melalui Twitternya.

Kepada AFP, Qunun mengatakan jika kembali ke Saudi dirinya kemungkinan akan dipenjara. Dia bahkan merasa yakin keluarganya akan membunuhnya ketika ia pulang.

Qunun kabur dari keluarganya ketika tengah berpergian bersama ke Kuwait. Dia mengaku kerap disiksa secara psikis dan fisik oleh keluarganya.

Qunun mengaku dia dicegat oleh pejabat Kuwait dan Saudi ketika tiba di Bandara Suvarnabhumi. Pejabat imigrasi Thailand menuturkan pihaknya memang telah menghubungi kedutaan Saudi terkait kasus ini.

Sementara itu, pelaksana tugas duta besar Saudi di Bangkok, Abdulilah al-Shouaibi, mengatakan ayah Qunun telah menghubungi kedutaan untuk meminta pertolongan untuk memulangkan sang anak.
Selain dicegat, Qunun menyebut seluruh dokumen perjalanan termasuk paspornya juga disita oleh pejabat Saudi.

Sesaat sebelum dirinya dideportasi, Qunun mengunggah meminta pertolongan orang-orang di ruangan transit bandara untuk membantu memprotes upaya deportasi saya.

"Tolong, saya butuh bantuan kalian semua. Saya berteriak meminta tolong dari sisi kemanusiaan," kicaunya di Twitter.

Malam sebelum dideportasi, Qunun bahkan mengunggah video yang menunjukan dia menghalangi pintu kamar hotelnya di bandara dengan furnitur agar aparat tak bisa masuk dan membawanya pergi.

Kasus Qunun terjadi ketika Saudi masih menjadi sorotan lantaran pembunuhan Jamal Khashoggi, wartawan pengkritik Raja Salman, di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.

Aktivis Human Rights Watch (HRW) Phil Robertson mengatakan Qunun menghadapi bahaya besar jika dirinya dipaksa kembali ke Saudi. Dia menganggap otoritas Thailand seharusnya mengizinkan Qunun bertemu Komisi Tinggi PBB untuk urusan pengungsi (UNHCR).
"Mengingat rekam jejak panjang Saudi terkait hak asasi manusia, kekhawatiran Qunun bahwa dia bisa dibunuh ketika pulang tidak bisa diabaikan," katanya.

Menurut pemerintah Thailand, Qunun kabur sebelum pernikahannya digelar. Mereka menyatakan akan tetap memulangkan perempuan itu ke negara asalnya.

Selain menghadapi ancaman hukuman kejahatan moral, perempuan Saudi kerap menjadi sasaran pembunuhan dengan dalih menjaga kehormatan keluarga.

Kasus Qunun bukan yang pertama kali terjadi. Pada April 2017, perempuan Saudi bernama Dina Ali Lasloom juga dicegat saat transit di Filipina ketika berupaya lari dari keluarganya. (rds/ayp)