Trump Mengeluh Lagi Soal Perbatasan, Demokrat Anggap Keliru

CNN Indonesia | Rabu, 09/01/2019 10:53 WIB
Trump Mengeluh Lagi Soal Perbatasan, Demokrat Anggap Keliru Ilustrasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali mengungkit masalah penutupan pemerintahan yang diklaim terkait dengan pengajuan anggaran untuk tembok perbatasan yang belum disetujui. Namun, fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan tetap menolak disalahkan dan balik menuduh Trump memperdaya rakyat AS.

Klaim itu disampaikan Trump dalam pidato kepresidenan yang disiarkan secara langsung dari Gedung Putih, seperti dilansir CNN, Rabu (9/1). Dia beralasan tembok perbatasan penting untuk melindungi warga Negeri Abang Sam dari serbuan pendatang ilegal dan narkoba.

"Seluruh rakyat AS tersakiti dengan arus pendatang yang tidak terkendali," kata Trump dalam pidatonya.
Meski begitu, Trump tidak mengklaim kalau AS dalam keadaan darurat. Sebab jika hal itu dilakukan, dia bisa memotong birokrasi dan mencairkan anggaran yang diajukan sebesar US$5 miliar untuk membangun tembok perbatasan tanpa persetujuan Kongres.


Trump juga melontarkan sejumlah klaim soal pendatang yang dianggap keliru. Yakni dia menyatakan para imigran di AS cenderung menjadi penjahat. Namun, menurut penelitian lembaga Cato Institute pada 2018 menyatakan dari hasil telaah data para narapidana mereka menarik kesimpulan ada kecenderungan penduduk yang lahir di AS justru menjadi penjahat ketimbang pendatang.

Trump juga mengklaim sampai saat ini fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan menolak menyetujui anggaran tembok perbatasan. Dia juga menuduh fraksi Demokrat meminta konsep penghalang perbatasan diubah menjadi pagar besi ketimbang tembok beton.

Tuduhan itu langsung dibantah oleh Ketua Dewan Perwakilan AS, Nancy Pelosi. Menurut dia fraksi Demokrat hanya mau meloloskan anggaran pembangunan penghalang perbatasan sebesar US$1,3 miliar. Mereka juga menyangkal meminta pengubahan konsep dari tembok beton menjadi pagar besi.
Menurut Nancy, Trump hanya mencoba menakut-nakuti rakyat AS dengan penutupan pemerintahan yang berkepanjangan, berbekal argumen tembok dan krisis imigran di perbatasan mereka dengan Meksiko. Sedangkan perwakilan minoritas Senat AS, Chuck Schumer meminta Trump berpikir jernih dan memisahkan urusan perbatasan dengan penutupan pemerintahan.

"Presiden memilih ketakutan. Kami hanya ingin memulai dengan fakta," kata Pelosi.

Penutupan pemerintahan AS kini sudah memasuki hari ke-18. Dampaknya mulai dirasakan rakyat AS, mulai dari layanan pemerintahan yang terhambat hingga subsidi bagi warga miskin yang tersendat. (ayp/ayp)